Selasa 08 Oct 2019 12:21 WIB

ASEAN Mengalami Kendala Implementasikan Layanan 5G

Ada dua kendala besar implementasi layanan 5G di ASEAN.

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id
Ini Kendala Implementasi 5G di ASEAN.... (FOTO: Bernadinus Adi Pramudita)
Ini Kendala Implementasi 5G di ASEAN.... (FOTO: Bernadinus Adi Pramudita)

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -- Peluncuran layanan 5G, menurut riset Cisco, mempunyai kendala. Salah satu tantangan besar dalam hal ini adalah terbatasnya ketersediaan spektrum untuk implementasi layanan 5G serta jaringan suboptimal yang dihasilkan.

Implementasi layanan 5G akan dilakukan pada sejumlah band, dengan kebutuhan secara global setidaknya bisa dipenuhi melalui ketersediaan tiga band dalam waktu dekat: low band (700 MHz), mid-band (3.5 to 4.2 GHz), dan high-band pada spektrum mmWave (24 hingga 28 GHz).

Di ASEAN, banyak dari band-band ini telah digunakan untuk layanan lain. Low band misalnya digunakan untuk FTA TV dan mid-band digunakan untuk layanan satelit. Meskipun tersedia mmWave, penyebarannya perlu dikombinasikan dengan spektrum low band untuk memungkinkan cakupan wilayah pinggiran kota dan pedesaan yang layak secara ekonomi serta akses dalam gedung.

Baca Juga: Riset Cisco: 5G Akan Tingkatkan Pendapatan Operator Hingga US$1,8 Miliar

“Peluncuran layanan 5G akan membutuhkan investasi besar dalam teknologi agar modernisasi jaringan bisa dilakukan. Di ASEAN, operator telekomunikasi kemungkinan akan terus berinvestasi dalam meningkatkan jaringan 4G mereka dan membangun kemampuan 5G secara bertahap," ujar Dharmesh Malhotra, Managing Director ASEAN Service Provider Cisco, di Mandarin Oriental Jakarta, Senin (7/10/2019).

Tambah Dharmesh, hal ini akan memungkinkan 4G dan 5G untuk beroperasi secara beriringan dan membantu operator mengelola capex (capital expenditure) berikut ROI (Return on Investment) mereka secara berkelanjutan. 

Peneliti A.T. Kearney Hari Venkataramani dan penulis utama studi "5G in ASEAN: Reigniting growth in enterprise and consumer markets" mengatakan bahwa potensi bisnis yang muncul dari implementasi 5G di ASEAN sangat besar. Namun, untuk mencapai potensi penuh, kawasan ASEAN perlu memahami bagaimana menghadapi tantangan utama dalam implementasi tersebut.

"Perlu upaya yang terkoordinasi dari semua pemangku kepentingan – regulator, operator, dan perusahaan – untuk mengatasi tantangan ini. Mengingat tantangan ekosistem dan nilai besar yang dipertaruhkan, regulator akan memainkan peran sentral dalam hal ini. Di antara masalah utama yang perlu diambil oleh regulator adalah memastikan ketersediaan spektrum jangka pendek, mendorong untuk berbagi infrastruktur, dan memelihara pengembangan kemampuan keamanan siber nasional di seluruh kawasan,” ujarnya.

Selain itu, operator perlu berhati-hati dalam membangun produk 5G mereka dan menetapkan harga untuk portofolionya di tengah upaya migrasi pelanggan ke jaringan berkecepatan tinggi. Berbeda dengan teknologi 3G dan 4G, pelanggan akan menyambut baik ketersediaan layanan 5G dan bersedia membayar untuk kualitas yang lebih baik. Akan fatal bagi operator untuk terlibat dalam perang harga hanya untuk menarik lebih banyak pelanggan dengan harapan bisa membebankan biaya lebih banyak kepada mereka pada tahapan berikutnya.

Dari sisi perusahaan, operator perlu membangun kapabilitas baru perusahaan dan menyediakan layanan yang bisa menggabungkan konektivitas tingkat tinggi dengan solusi serta aplikasi untuk membantu pelanggan memahami, mengimplementasikan, dan mengembangkan pemanfaatan nilai tambah teknologi 5G. Mereka juga harus bersaing dengan berbagai pesaing baru yang menyediakan jaringan pribadi untuk perusahaan.

Studi ini juga menyoroti bahwa Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia memperkirakan lisensi spektrum 5G akan tersedia pada tahun 2022.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement