Jumat 20 Sep 2019 15:30 WIB

Bulog Mau Bangun Gudang Kedelai, Ini Tantangannya

Faktor PSO kerap jadi batu sandungan perusahaan BUMN dalam kembangkan sisi komersial

Rep: Imas Damayanti/ Red: Friska Yolanda
Gudang Bulog untuk kedelai lokal.
Foto: kementan
Gudang Bulog untuk kedelai lokal.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rusli Abdullah menyatakan, rencana pembangunan gudang kedelai oleh Bulog cukup baik. Hanya saja Bulog perlu mengantisipasi sejumlah tantangan di sektor kedelai dan pergudangan yang terjadi.

Seperti diketahui, Perum Bulog berencana membangun satu gudang yang dikhususkan untuk menyimpan kedelai petani lokal. Adapun kapasitas gudang yang dibangun rencananya sebesar 3.500 ton dan akan dibangun di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Menurut Rusli, penyediaan gudang baik untuk kedelai lokal maupun impor tetap baik hanya tantangannya pun tak sedikit.

Baca Juga

“Pembangun gudang pastinya enggak murah, dan juga Bulog perlu membedakan image berasnya dengan kedelai ini harus berbeda nanti,” kata Rusli saat dihubungi Republika.co.id, Jumat (20/9).

Sebab, Rusli menjabarkan, persepsi petani dan masyarakat terhadap Bulog telah kadung terafiliasi dengan kualitas beras yang rendah. Sehingga apabila penyerapan kedelai petani dilakukan oleh Bulog, persepsi serupa akan berkembang di masyarakat.

Padahal secara mandatori status, dua komoditas tersebut memiliki perbedaan pelaksanaannya bagi Bulog. Jika beras merupakan sebuah komoditas pangan sekaligus politik yang dijalankan berdasarkan aturan pelayanan publik atau public service obligation (PSO), hal serupa tidak berlaku pada kedelai. Sehingga harusnya, Bulog dinilai dapat lebih leluasa memainkan peran layaknya perusahaan pada umumnya yang menimbang profit tanpa membutuhkan penugasan.

Terkadang, menurutnya, faktor PSO kerap menjadi batu sandungan bagi perusahaan-perusahaan pelat merah dalam memainkan sisi komersialnya. Dia mencontohkan bagaimana Bulog bergulat dengan beras dan Pertamina dengan subsidi solarnya. Untuk itu, dia berharap apabila pembangunan gudang itu terlaksana, Bulog dapat meningkatkan image kedelainya layak untuk dikonsumsi.

“Kalau kedelai lokal kan untuk kecap dan usaha pabrikan, sedankan yang impor untuk tempe. Makanya kalau Bulog mau simpan kedelai lokal yang untuk pabrikan, image ini harus dibangun, dibedakan kalau perlu image dari beras Bulog,” ungkapnya.

Selain itu dia juga mengimbau agar Bulog terus mempersiapkan kepastian pasar bagi kedelai lokal yang akan disimpan. Sebab apabila pembangunan gudang itu terealisasi, kata Rusli, biaya perawatan gudang akan terus berjalan sehingga pengeluaran yang perlu dikeluarkan Bulog pun bertambah.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengklaim, saat ini Bulog sudah mulai meningkatkan kualitas produknya, termasuk kedelai. Menurut pria yang akrab disapa Buwas ini, Bulog akan memainkan porsi lebih besar di ranah komersial ketimbang PSO. Pihaknya juga mengaku telah menjalankan transformasi perusahaan ke arah komersial layaknya perusahaan swasta pada umumnya.

“Kalau dulu kami PSO, sekarang presentasenya lebih ke komersial. Sehingga produk-produk Bulog itu kualitasnya sudah sangat baik,” kata Buwas.

Bulog, kata Buwas, juga siap merambah pasar ritel untuk memasarkan produk-produknya. Dia juga mengklaim telah menemukan teknologi pergudangan yang canggih sehingga kualitas produk yang dimiliki Bulog tak menurun, apapun komoditasnya.

Sebelumnya, Direktur Kacang dan Umbi Kementerian Pertanian (Kementan) Amiruddin Pohan berharap Bulog dapat segera mengimplementasikan pembangunan gudang kedelai. Hal itu guna mengakselerasi penyerapan hasil panen kedelai petani yang selama ini mengeluhkan pasar yang relatif sulit.

Berdasarkan catatan Kementan, luas panen kedelai tahun 2019 sekitar 680 ribu hektare dengan produksi sebesar 982 ribu ton. Angka tersebut tercatat naik dari tahun sebelumnya yang tercatat hanya 356 ribu hektare dengan produksi sebesar 538 ribu ton.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement