Kamis 01 Aug 2019 11:16 WIB

Kemenko Perekonomian: Keputusan The Fed Sudah Terprediksi

Penurunan suku bunga The Fed diharapkan dapat mengalirkan modal asing ke Indonesia.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolanda

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sudah memprediksi keputusan penurunan suku bunga hingga 25 basis poin (bps) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Fed. Proyeksi ini didasari atas kondisi perekonomian global yang tengah melambat dan inflasi AS yang tertahan di kisaran dua persen. 

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Menko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengatakan, kebijakan The Fed tersebut membawa dampak positif terhadap perekonomian Indonesia melalui dua mekanisme transmisi. Di antaranya, semakin membahas perbedaan tingkat suku bunga Indonesia dengan AS. 

Baca Juga

"Ini dapat meningkatkan capital inflows ke Indonesia," tuturnya ketika dihubungi Republika.co.id, Kamis (1/8). 

Dampak itu akan memperbaiki ekonomi Indonesia mengingat capital inflow atau aliran modal asing sudah mengalir sejak dua bulan terakhir. Menurut catatan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, aliran sampai 25 Juli 2019 sudah tercatat sebesar Rp 192,5 triliun. Sebanyak Rp 119,3 triliun di antaranya untuk Surat Berharga Negara dan sisanya untuk saham. 

Selain itu, Iskandar menambahkan, penurunan suku bunga The Fed dapat mendorong BI melakukan kebijakan serupa. Apabila terjadi, suku bunga kredit dalam negeri akan turun dan berpotensi meningkatkan investasi.

"Kelanjutannya, meningkatkan pertumbuhan ekonomi,"  katanya. 

Dilansir di AP News, Kamis (1/8), The Fed mengurangi suku bunga acuannya pada Rabu (31/7) waktu setempat. Kondisi ini memengaruhi banyak pinjaman untuk rumah tangga dan bisnis dengan seperempat poin menjadi kisaran 2 persen hingga 2,25 persen.

Kebijakan The Fed untuk memangkas suku bunga ini merupakan pertama kalinya dalam satu dekade. Kebijakan ini ditujukan untuk  menghadapi ancaman mulai dari ketidakpastian yang disebabkan oleh perang dagang, inflasi yang sangat rendah dan prospek global yang suram. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement