Selasa 03 Feb 2026 10:13 WIB

Harga Emas Dunia Anjlok, Ternyata Ini Penyebabnya

Penunjukan Kevin Warsh mengguncang harga logam mulia.

Presiden AS Donald Trump saat berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York pada 23 September 2025.
Foto: REUTERS/Mike Segar
Presiden AS Donald Trump saat berpidato di depan Majelis Umum PBB di New York pada 23 September 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Harga emas dan perak dunia mengalami gejolak tajam sepanjang pekan lalu setelah sempat mencetak rekor tertinggi, sebelum akhirnya berbalik turun signifikan akibat perubahan sentimen pasar keuangan global.

Harga emas melonjak hingga menembus rekor di atas 5.580 dolar AS per ons pada Kamis pekan lalu. Namun, logam mulia tersebut kemudian mengalami penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir pada Jumat dengan anjlok sekitar 9 persen. Tekanan jual berlanjut hingga Senin (2/2/2026), ketika harga emas kembali turun 3,3 persen ke level sekitar 4.545 dolar AS per ons sebelum mulai pulih.

Baca Juga

Dikutip dari DW, lonjakan harga emas sebelumnya dipicu oleh meningkatnya permintaan aset lindung nilai di tengah inflasi yang masih tinggi di sejumlah ekonomi utama serta meningkatnya ketegangan geopolitik global. Faktor tersebut mencakup hubungan dagang Amerika Serikat dan China, ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland, perang Rusia di Ukraina, serta peran Iran dalam konflik kawasan.

Pasar keuangan juga bereaksi terhadap ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve). Kebijakan tersebut umumnya melemahkan dolar AS dan mendorong kenaikan harga emas.

Selain itu, lonjakan harga emas turut dipicu oleh maraknya pembelian call options, yakni kontrak yang memberi hak kepada investor untuk membeli emas pada harga tertentu di masa depan. Kondisi ini memaksa penjual opsi untuk membeli emas sebagai lindung nilai, sehingga menciptakan dorongan lanjutan terhadap kenaikan harga.

Sementara itu, harga perak juga mencatat reli tajam dan tak terduga. Logam tersebut sempat menyentuh rekor 121,64 dolar AS per ons pada Kamis, sebelum anjlok hampir sepertiga dalam waktu singkat. Hingga Senin, harga perak tercatat turun sekitar 41 persen secara total ke kisaran 72 dolar AS per ons sebelum kembali menunjukkan tanda pemulihan.

Kenaikan ekstrem harga perak dipicu oleh aktivitas spekulatif serta ekspektasi kuat terhadap permintaan industri. Perak semakin banyak digunakan dalam industri elektronik, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan energi bersih. Di China, masuknya dana spekulatif juga memperketat pasokan perak domestik dan mendorong harga semakin tinggi.

Pembalikan harga yang tajam tersebut terutama dipicu oleh dua pengumuman penting yang mengubah sentimen pasar dan memicu aksi jual paksa. Pertama, Presiden Donald Trump pada Jumat menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya menggantikan Jerome Powell.

Warsh dipandang sebagai figur yang pragmatis dan independen, serta memiliki pengalaman menghadapi krisis ekonomi. Pasar menilai penunjukan ini sebagai sinyal bahwa kebijakan moneter ke depan tidak akan cenderung agresif memangkas suku bunga, berbeda dengan tekanan yang selama ini disuarakan Gedung Putih.

Penunjukan Warsh mendorong penguatan dolar AS, berlawanan dengan ekspektasi sebagian investor yang memperkirakan pemerintahan Trump akan mentoleransi pelemahan mata uang. Di antara kandidat Ketua Federal Reserve, Warsh dinilai paling ketat terhadap inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dan memberi tekanan pada harga emas yang diperdagangkan dalam dolar AS.

Selain itu, Bursa Chicago Mercantile Exchange (CME) pada akhir pekan lalu menaikkan persyaratan margin perdagangan emas dan perak berjangka melalui COMEX (Commodity Exchange, Inc.). Kebijakan ini bertujuan menekan pengambilan risiko berlebihan dan menjaga stabilitas pasar, serta mulai berlaku setelah penutupan perdagangan Senin.

Gejolak harga ini memicu perdebatan di kalangan pelaku pasar mengenai apakah reli emas dan perak telah berakhir atau hanya mengalami koreksi sementara.

“Pertanyaan yang kini muncul adalah apa yang akan terjadi selanjutnya,” ujar Michael Brown, analis riset senior di perusahaan pialang keuangan Australia, Pepperstone.

Ia menilai bahwa sebagaimana reli sebelumnya berlangsung terlalu cepat, koreksi harga kali ini juga berpotensi telah bergerak terlalu jauh dalam waktu singkat.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Asia dan Timur Tengah CMC Markets, Christopher Forbes, yang menilai penurunan tajam harga emas lebih mencerminkan koreksi teknikal setelah lonjakan luar biasa, bukan perubahan tren jangka panjang.

Menurut Forbes, pelemahan dolar AS atau sinyal kebijakan moneter yang lebih longgar dapat kembali menarik minat investor untuk membeli emas, dengan peluang harga kembali mendekati rekor dalam 12 bulan ke depan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement