Senin 29 Jul 2019 12:51 WIB

SKK Migas Minta Pertamina Percepat Penutupan Sumur di ONWJ

Sebaran tumpahan minyak akan terus terjadi selama sumur tidak ditutup.

Rep: Muhammad Nursyamsyi/ Red: Friska Yolanda
Warga mengumpulkan limbah tumpahan minyak 'Oil Spill' yang tercecer milik Pertamina di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Rabu (24/7/2019).
Foto: Antara/M Ibnu Chazar
Warga mengumpulkan limbah tumpahan minyak 'Oil Spill' yang tercecer milik Pertamina di Pesisir Pantai Cemarajaya, Karawang, Jawa Barat, Rabu (24/7/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan peristiwa kebocoran gas disertai tumpahan tumpahan minyak di sekitar anjungan lepas pantai YY PHE ONWJ di sekitar anjungan YY di wilayah Karawang, Jawa Barat, harus menjadi pelajaran berharga bagi Pertamina. Sumur ONWJ perlu segera ditutup.

"Ini menjadi pelajaran betul, banyak hal perlu diperbaiki Pertamina. Kita harapkan tidak terjadi lagi ke depan," ujar Dwi di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (29/7).

Baca Juga

Dwi meminta Pertamina berusaha mengatasi dampak lingkungan dan melakukan penanganan maksimal agar dampak tumpahan minyak tidak sampai ke arah pantai. Jangan sampai dampaknya ke arah pantai.

"Oil boom diperbanyak, (tumpahan minyak) harus dikumpulkan dan disedot, kurangi target jangan sampai ada minyak terbawa ke arah pantai," kata Dwi. 

Dwi juga meminta segera mempercepat proses penutupan sumur dengan drilling well. Pasalnya, sebaran tumpahan minyak akan terus terjadi apabila sumur yang menjadi penyebab kebocoran tidak lekas ditutup. 

"Selama belum tertutup, kepastian akan terus ada. Jadi tidak bisa jamin bahwa dampak yang ini sudah berhenti," ucap Dwi. 

Dwi berharap manajemen Pertamina bisa lebih fokus perbaiki kinerja, meski tengah fokus pada kebocoran di ONWJ. Akibat insiden ini, kata Dwi, proyek PHE ONWJ yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2019 terpaksa tidak bisa mencapai target. 

Wakil Kepala SKK Migas Sukandar mengatakan penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak harus ditangani dengan maksimal. Hal itu bertujuan agar tidak berdampak luas pada lingkungan dan masyarakat sekitar. 

"Ini penanganan harus cepat agar oil spill tidak kemana-mana," kata Sukandar. 

Sukandar menyampaikan, insiden ini menjadi tanggung jawab penuh Pertamina selalu operator. Sukandar berharap sejumlah proses penanganan yang dilakukan Pertamina dengan dibantu sejumlah pihak bisa dapat diselesaikan dalam waktu sekira tiga bulan. 

"Paling lama tiga bulan. Ini sumurnya nanti harus mati," ucap Sukandar.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement