Senin 08 Apr 2019 10:14 WIB

Rupiah Awal Pekan Diprediksi Menguat

Data pengangguran AS memberi dampak positif pada rupiah

Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah.    (ilustrasi)
Foto: Republika/ Yogi Ardhi
Seorang petugas teller menghitung mata uang rupiah. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan ini diprediksi akan bergerak menguat. Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih mengatakan rupiah berpeluang menguat pasca rilis tingkat pengangguran di AS yang tercatat stagnan.

"Data ketenagakerjaan menjadi indikator penting The Fed dalam kebijakan suku bunganya. Kemungkinan The Fed masih belum akan mengubah kebijakan suku bunganya saat ini yang masih bertahan pada 2,25 -2,5 persen," ujar Lana  di Jakarta, Senin (8/4).

Baca Juga

Tingkat pengangguran di AS untuk Maret 2019 tercatat 3,8 persen, tetap sebagaimana Februari 2019. Padahal sebelumnya pada minggu yang berakhir pada 30 Maret 2019, jumlah tingkat klaim pengangguran (jobless claims) tercatat terendah sejak minggu yang berakhir pada 6 Desember 1969.

Selama Maret 2019 tersebut, data tenaga kerja non-pertanian (non-farm payroll) AS bertambah sebanyak 196 ribu, naik tajam dari bulan sebelumnya yang hanya bertambah 33 ribu. Data ketenagakerjaan AS kembali menguat setelah pada Februari lalu sempat melambat.

Lana memperkirakan pada hari ini rupiah akan bergerak menguat di kisaran Rp 14.100 hingga Rp 14.130 per dolar AS. Pada pukul 9.52 WIB, kurs rupiah melemah 20 poin atau 0,14 persen menjadi Rp 14.153 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.133 per dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement