Selasa 05 Mar 2019 06:50 WIB

Standard Chartered Indonesia Cetak Laba Bersih Rp 536 Miliar

Penyaluran kredit Standard Chartered Indonesia tumbuh 17 persen pada 2018

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Nidia Zuraya
Standard Chartered Bank
Foto: EPA/ALEX HOFFORD
Standard Chartered Bank

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Standard Chartered Bank menutup 2018 dengan mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 371 persen atau mencapai Rp 536 miliar. Menurut Chief Executif Officer Standard Chartered Bank Indonesia, Rino Dono Sepoetro, kenaikan laba bersih didukung oleh pertumbuhan yang signifikan dari segmen Corporate & Institutional Banking.

"Secara umum, strategi yang sudah kami tempuh sejak 2017 membuahkan hasil. Ini (laba bersih) bahkan tertinggi sejak 2014," ujar Rino saat memaparkan kinerja keuangannya untuk tahun 2018, di Jakarta, Senin (4/3).

Selain itu, penyaluran kredit (loan book) juga mengalami pertumbuhan sebesar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh perbaikan aset yang tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang turun ke 2,22 persen di 2018 dari 3,90 persen di 2017.

Sementara itu, pendapatan dari segmen Corporate & Institutional Banking meningkat sebesar 36 persen didukung oleh flow business seperti financial markets dan transaction banking. Penyaluran kredit kepada UMKM juga meningkat menjadi 23 persen dari tahun sebelumnya sebesar 13 persen.

Sepanjang 2018, pengeluaran beban operasional Bank juga mengalami penurunan sebesar 6 persen. Rino menegaskan, pencapaian ini didukung oleh upaya peningkatan digitalisasi dan efisiensi proses internal.

Efisiensi biaya bahka menurunkan Cost to Income Ratio (CIR) ke level 65 persen dari 68 persen di tahun lalu. Pengelolaan manajemen likuiditas meningkatkan rasio Net Interest Margin (NIM) dari 4.26 persen menjadi 4.38 persen.

Menurut Rino, likuiditas bank menguat dengan rasio modal sebesar 16.60 persen, termasuk setelah penerapan IFRS 9/ PSAK 71 di tahun 2018. Ia juga optimistis, pengembangan bisnis Bank pada 2019 akan mengalami pertumbuhan.

Rino memproyeksikan pertumbuhan laba bisa meningkat double digit dari tahun sebelumnya. "Indonesia market terpenting di dunia. Kami fokus pada koridor bisnis," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement