Jumat 18 Jan 2019 23:26 WIB

Ritel Besar Gugur karena Kalah Saing dengan Minimarket?

Kunci bertahan di tengah persaingan ritel minimarket adalah memahami target pasar.

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Dwi Murdaningsih
Produk sanitasi wanita atau tampon dijual di rak supermarket.
Foto: Wikimedia
Produk sanitasi wanita atau tampon dijual di rak supermarket.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Bina Usaha dan Pelaku Distribusi Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) I Gusti Ketut Astawa menuturkan, dampak kehadiran ritel minimarket berdampak terhadap ritel besar. Selain lokasi yang lebih menjamur di berbagai daerah, minimarket cenderung menawarkan produk dengan harga lebih terjangkau.

Tapi, Astawa menuturkan, pihaknya masih membutuhkan kajian lebih mendalam untuk memahami seberapa besar keterkaitan keduanya, meski persaingan itu pasti ada. "Tergantung juga pada potensi dan target pasarnya," ucapnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jumat (18/1).

Aksesibilitas yang lebih mudah menjadi salah satu keunggulan utama minimarket. Menurut Astawa, ritel kecil di pinggir jalan lebih mudah dan  nyaman dijangkau oleh siapapun dibanding dengan harus mencari parkir di ritel besar yang kebanyakan berada di pusat perbelanjaan atau mal.

Keunggulan lain yang dimiliki minimarket adalah harga produk. Dengan varian produk yang tidak jauh berbeda dengan ritel besar seperti Hero, ritel-ritel minimarket menawarkan harga lebih murah. "Mereka juga kerap melakukan promo-promo," ujar Astawa.

Astawa menjelaskan, kunci untuk bertahan di tengah persaingan ritel minimarket adalah memahami target pasar. Ritel besar harus mengetahui lokasi mana saja yang memang sesuai dengan sasaran pasar mereka. Pun dengan produk yang dijual harus sesuai preferensi pasar mereka.

Selain itu Astawa menambahkan, pengusaha harus melakukan inovasi secara terus menerus. Khususnya dengan memanfaatkan marketplace yang kini sudah semakin menjamur. Baru sebagian pelaku ritel modern yang telah masuk ke ranah online.

Selain itu, Astawa menambahkan, pengusaha ritel tetap harus membuka offline store di daerah-daerah yang memang sesuai dengan pangsa pasar mereka. "Kini, mereka harus mempertimbangkan untuk menawarkan strategi omnichannel, yaitu memadukan offline dan online," ucapnya.

Sementara itu, Pengamat Perilaku Publik Rhenald Kasali menilai, tutupnya sejumlah gerai ritel modern lebih dikarenakan daya dukung lingkungan yang berubah. Misal, gerai cabang A yang tadinya didukung oleh keberadaan perumahan maupun jalan tertentu membuatnya cukup laris. Tapi, perubahan besar yang terjadi di Jakarta membuat populasi di titik-titik tersebut berubah ataupun kesulitan akses

Rhenald juga menilai, penutupan ritel modern bukan disebabkan penurunan tingkat konsumsi kalangan menengah seperti yang diduga beberapa waktu. Termasuk yang terjadi dengan Hero pada beberapa waktu lalu. Sebab, gerai tersebut menyajikan kebutuhan pangan segar yang menjadi kebutuhan masyarakat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement