Senin 17 Dec 2018 23:45 WIB

Lahan Gambut Ini Punya Air Lebih Banyak dari Waduk Jatiluhur

Gambut merupakan waduk alami.

Ilustrasi hutan gambut
Foto: dok. Humas Kemenhut
Ilustrasi hutan gambut

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hutan Lindung Gambut (HLG) Mendawak di Kalimantan Barat menyimpan dua kali lipat air Waduk JatiLuhur. HLG tersebut menampung air 2,1 miliar meter kubik atau dua kali volume air di Waduk Jatiluhur.

Hal itu terungkap berdasarkan hasil penelitian terbaru Badan Restorasi Gambut (BRG) bersama Balai Litbang Inovasi dan Pusat Litbang Hutan. "Dari kajian hidrologi ada data atau temuan baru bagi ahli gambut. Tapi nanti kita detailkan lagi temuan itu sehingga tahu bagaimana fungsi hidrologinya," kata Deputi IV Bidang Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan di Jakarta, Senin (17/12).

Dari penelitian di Kalbar, kata dia, diketahui HLG Mendawak yang di dalamnya terdapat Kesatuan Hidrologi Gambut (KHG) Kapuas-Jenuh memiliki luasa sekitar 39.000 hektare. Dengan kondisi yang masih relatif terjaga, kedalaman maksimal gambut mencapai 13 meter dan menampung air 2,1 miliar meter kubik.

Berdasarkan peta model kedalaman gambut HLG Mendawak dari Balai Litbang Inovasi dan Pusat Litbang Hutan dengan skala 1:60.000, terlihat di sisi selatan terdapat area konsesi PT Wana Subur Lestari. Di sisi selatan hingga timur terdapat area konsesi PT Mayangkara Tanaman Industri. Out flow air dari HLG ini mencapai 25,8 meter kubik per detik sehingga memberikan potensi sosial dan ekonomi bagi daerah sekitarnya di Kalimantan Barat.

Secara keseluruhan, lahan gambut tersebar di 17 provinsi di Indonesia, luasannya mencapai hingga 12,9 juta hektare. "Jadi gambut itu benar-benar waduk alami. Ini sudah terlandasi secara ilmiah," ujar Haris.

BRG bersama 13 mitra universitas dan tiga lembaga penelitian mulai 2016 hingga 2018 melakukan penelitian bersama sesuai dengan strategi restorasi yang dilaksanakan. Strategi tersebut ialah 3R serta menganalisis bagaimana keterpaduan tersebut dapat terimplementasi.

Kedeputian Penelitian dan Pengembangan BRG bekerja sama dengan mitra penelitian dari universitas dan lembaga penelitian di Indonesia, melaksanakan penelitian 61 paket pada 2017. Pada 2018, dilaksanakan penelitian 41 paket dengan pengembangan tema dari 2017.

Selain itu, penyatuan berbagai riset dalam konsorsium, dengan mitra riset dan pilot yang sama seperti 2017, dalam artian bahwa penelitian dan pilot 2018 merupakan kelanjutan dari penelitian tahun 2017 dengan perluasan dan pendalaman kajian. Sejalan dengan strategi restorasi, ia mengatakan telah dilaksanakan penelitian dan pilot dengan tema hidrologi, paludikultur, sosial dan ekonomi, kebijakan, keanekaragaman hayati dan nilai konservasi tinggi.

Sebelumnya, ia menjelaskan restorasi gambut yang dilakukan BRG menggunakan pendekatan pembasahan (rewetting), revegetasi (revegetation), dan revitalisasi mata pencarian masyarakat (revitalization of local livelihoods) yang kemudian dikenal dengan istilah 3R. Restorasi gambut dipahami sebagai upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengelola secara berkelanjutan, termasuk partisipasi dalam menjaga kawasan lindung dan konservasi hutan dan lahan gambut.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement