Rabu 24 Oct 2018 02:07 WIB

Hadapi MEA, Perbankan Perlu Konsolidasi

Selain dengan sesama, bank didorong melakukan konsolidasi dengan fintech.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Friska Yolanda
Aktivitas di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Yasin Habibi)
Foto: Republika/ Yasin Habibi
Aktivitas di kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Jakarta, Senin (22/9). (Republika/Yasin Habibi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menekankan perlunya konsolidasi perbankan untuk menghadapi persaingan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2020. Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Poernomo menjelaskan bahwa di era teknologi saat ini perbankan menghadapi persaingan dengan teknologi finansial (fintech). Adanya persaingan yang semakin ketat ini akan membahayakan bagi bank-bank kecil yang berada di bank umum kelompok usaha (BUKU) 1 dan 2. 

"OJK dorong bank konsolidasi. Tidak akan mungkin mengurangi bank, tapi kalau ada yang mau merger, ya kita dorong. Atau strateginya ada holding," ujar Slamet dalam acara seminar Peta Kekuatan Permodalan Perbankan Nasional di Tengah Ancaman Krisis, Jakarta, Selasa (23/10).

Menurut Slamet, adanya konsolidasi akan mendorong bank lebih efisien. Apabila bank kecil diakuisisi oleh bank besar, pengawasan yang dilakukan oleh OJK menjadi lebih mudah. Selain itu, jika ada masalah, bank induk dapat menyelamatkan bank kecil tersebut.

Dia juga menekankan mengenai pentingnya bank untuk meningkatkan efisiensi agar dapat meningkatkan daya saing. OJK sangat mendorong perbankan untuk meningkatkan digital banking.

Selain itu, kualitas SDM perlu ditingkatkan, dan dibentuk suatu standarisasi agar bisa membangun platform ekosistem baru. "Dengan demikian, bisa bersaing di kancah nasional dan internasional," ujar Slamet.

Dalam kesempatan yang berbeda, Ekonom Senior INDEF Aviliani mengatakan bahwa bank-bank kecil harus mulai memperhatikan ekosistem persaingan atau arah pasar mereka. Karena ke depannya, bank tidak dapat bergantung hanya kepada bunga kredit.

"Ketika mereka tidak berekosistem, maka dia akan mati dengan sendirinya. Margin makin tipis, sumber dana masyarakat mahal, top up (suntik modal) tidak ada dari pemilik," jelas Aviliani kepada Republika.co.id.

Menurut Aviliani, pada 2020 mendatang, negara-negara Asia dan Eropa akan mulai tertarik menyimpan dananya di perbankan Indonesia. Saat itu, perbankan tidak mungkin menetapkan suku bunga tinggi karena banyaknya dana asing yang masuk. Dampaknya, hanya bank-bank Indonesia yang dimiliki oleh asing yang bisa bertahan.

"Makanya dari sekarang konsolidasi penting, sasarannya ke mana. Karena kalau pendapatan hanya bergantung kredit tidak mungkin lagi. Karena dana bank diambil lembaga lain, kredit diambil fintech. Artinya kalo bergantung ke kredit saja akan sulit di masa mendatang," jelasnya.

Selain berkonsolidasi, bank- bank kecil juga memiliki pilihan untuk berkonsolidasi dengan fintech. Bahkan saat ini bank-bank kecil memiliki market value yang tinggi karena fintech mulai membidik bank. Namun dari 114 bank, yang sebagian besar merupakan bank-bank kecil, menurut Aviliani hanya 20 persen yang memikirkan konsolidasi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement