Senin 01 Oct 2018 23:33 WIB

Pembeli Ayam di Padang Anjlok 40 Persen

Pedagang ayam meyakini konsumen menahan pembelian karema musim pelajaran baru

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Pedagang daging ayam di Pasar Wonokromo.
Foto: Republika/Dadang Kurnia
Pedagang daging ayam di Pasar Wonokromo.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Permintaan masyarakat terhadap daging ayam di Kota Padang menunjukkan tren penurunan dalam satu bulan terakhir. Sekretaris Koperasi Peternak dan Pedagang Ayam Kota Padang, Rajabman, menyebutkan bahwa jumlah pembeli mengalami penurunan hingga 40 persen dalam dua pekan belakangan, dibandingkan bulan Agustus 2018. 

Sepinya pembeli juga berujung pada penurunan harga jual. Rajabman merinci, harga jual dari agen ke pedagang ayam dipatok di rentang Rp 17.000 - Rp 17.500 per kilogram (kg). Padahal saat permintaan tinggi, harga jual dari agen ke pedagang bisa menyentuh Rp 20 ribu per kg. Sementara harga jual daging ayam dari pedagang kepada konsumen di pasar tradisional, dipatok di angka Rp 18.000 - Rp 20.000 per kg. Angka ini jauh menurun dibanding harga jual ayam pada Agustus 2018 yang sempat menyentuh Rp 26.000 - Rp 30.000 per kg.

"Ini sudah terjadi dua pekan. Kenapa permintaan sepi, karena konsumen beralih ke ikan. Tangkapan ikan lagi banyak. Dan juga ini bareng masuknya anak kuliah. Orang ngerem makan daging ayam," jelas Rajabman di Pasar Raya Padang, Senin (1/10). 

Rajabman juga mengaku tak tahu menahu mengenai kebijakan pemerintah yang merevisi harga acuan daging ayam. Menurutnya, naik turunnya harga ayam saat ini masih bergantung tinggi rendahnya permintaan. 

Sebelumnya, Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan harga batas atas dan harga batas bawah telur ayam dan daging ayam demi menjaga keuntungan peternak. Revisi harga acuan ini rata-rata meningkat Rp 1.000 per kilogram (kg).

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menetapkan harga batas bawah telur di tingkat peternakan sebesar Rp 18 ribu per kg, sementara batas atasnya adalah Rp 20 ribu per kg. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement