Senin 01 Oct 2018 23:21 WIB

Penyebab Deflasi Menurut Kemendag

Kemendag meyakini daya beli yang terjaga tercermin dari inflasi inti yang meningkat

Rep: Adinda Prayanka/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Proses bongkar muat peti kemas berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2018 terjadi deflasi 0,18 persen.
Foto: ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Proses bongkar muat peti kemas berlangsung di Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (13/9). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2018 terjadi deflasi 0,18 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kementerian Perdagangan Kasan Muhri menilai, deflasi sebesar -0,18 persen pada September ini menjadi berita positif terhadap dua hal. Yakni, terkait menjaga stabiltias harga, khususnya pangan, dan pencapaian target inflasi tahun 2018.

Apabila dilihat dari komponennya, deflasi bulan September 2018 bersumber dari.volatile food yang mengalami deflasi 1.83 persen. Di samping itu, inflasi inti mengalami inflasi 0.28 persen,  sementara administered price relatif stabil dengan inflasi 0.0 persen.

Dilihat dari faktor tersebut, Kasan mengatakan, deflasi di bulan September masih ditopang oleh ketersediaan pasokan volatile food yang cukup. "Daya beli masyarakat juga tetap terjaga  sebagaimana diindikasikan dari inflasi inti yang masih meningkat," tuturnya saat dihubungi Republika, Senin (1/10).

Ketersediaan pasokan yang cukup dan keberhasilan pengendalian harga pangan oleh pemerintah tercermin dari inflasi. Kasan menambahkan, kelompok pengeluaran bahan makanan yang memberi andil deflasi sebesar -0,35 persen dengan nilai deflasi sebesar -1,62 persen.

Beberapa bahan makanan yang berkontribusi terhadap deflasi bulan September antara lain  daging ayam ras deflasi sebesar -8,88 persen, bawang merah (-9,27 persen), ikan segar (-0,60 persen), telur ayam ras (-4,51 persen), tomat (-10,57 persen), cabai merah (-9,19 persen), cabai rawit (-10,55 persen), dan bawang putih (-2,47 persen).

Kasan menjelaskan, penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras disebabkan oleh produksi day old chick (DOC) atau anak ayam usia sehari komersial yang mencukupi. Kondisi ini diimbangi dengan turunnya permintaan setelah masa Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HKBN).

"Sementara itu, harga produk holtikultura terutama bawang merah dan cabai mengalami penurunan disebabkan pasokan yang cukup setelah musim panen," ujar Kasan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada September 2018 terjadi deflasi 0,18 persen. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, turunnya harga bahan makanan menjadi penyebab terjadinya deflasi pada September 2018.

Selain bahan makanan, kelompok lainnya yang mengalami deflasi adalah kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,05 persen akibat turunnya tarif angkutan udara. "Kelompok transportasi memberikan deflasi karena terjadi penurunan tarif angkutan udara di 82 kota, setelah puncaknya pada Ramadhan dan Lebaran, kecuali di Bengkulu," ucapnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement