Ahad 09 Sep 2018 11:25 WIB

Fintech Amartha Tingkatkan Inklusi Keuangan Kepulauan Seribu

Pelatihan inklusi keuangan diberikan kepada para pengusaha wanita di Kepulauan Seribu

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Amartha berkolaborasi dengan Wangsa Jelita meramu sebuah acara berjudul Financial Planning 101.
Foto: amartha
Amartha berkolaborasi dengan Wangsa Jelita meramu sebuah acara berjudul Financial Planning 101.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan financial technology (fintech) Amartha bersama Bank Indonesia (BI) memberikan pelatihan kepada para wanita produsen pengolah makanan khas dari Kepulauan Seribu. Acara ini digelar untuk meningkatkan pengetahuan tentang akses keuangan melalui fintech peer to peer (P2P) lending.

Para peserta yang terdiri dari 40 pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) ini merupakan hasil binaan BI, STP Sahid, serta Gerakan Seribu sejak 2016. Relationship Manager Amartha Arsyadamar Budimansyah turut memberikan materi literasi keuangan dalam acara 'Program Pengembangan Ekonomi Lokal Kepulauan Seribu' di Ancol, pada Kamis lalu, (6/9).

“Fintech merupakan produk inovasi di bidang teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki layanan keuangan konvensional. Jenis-jenis fintech beragam dan semuanya membangun  teknologi untuk dapat memberikan solusi lebih cepat, lebih aman, dan lebih efisien dibandingkan layanan keuangan konvensional melalui perbankan atau lembaga keuangan lainnya,” jelas Damar melalui siaran pers yang diterima Republika, Ahad (9/9).

Damar menjelaskan, salah satu jenis fintech yang dapat membangun ekonomi UMKM yakni peer to peer lending. Pasalnya, P2P lending memberikan kemudahan ke masyarakat dalam mendapatkan pinjaman ke UMKM. Hal ini karena, pendana dapat memberikan dana pinjaman kepada pelaku usaha UMKM secara daring melalui platform fintech P2P lending.

“Fintech diharapkan dapat mengurangi biaya transaksi, menjangkau lebih jauh ke pelosok-pelosok desa sehingga meningkatkan inklusi keuangan. Sekaligus mendorong perekonomian melalui akses keuangan yang lebih mudah dan cepat,” tuturnya.

Dirinya menjelaskan, dengan menghubungan pendana yang sebagian besar tinggal di perkotaan dengan pelaku usaha UMKM. Amartha menempatkan diri sebagai perantara untuk membantu pendana yang ingin berinvestasi untuk kebaikan dengan pelaku usaha perempuan di pelosok desa yang bertekad untuk meningkatkan taraf hidup keluarga mereka.

Platform peer-to-peer memungkinkan sumber pendanaan lebih terbuka dan demokratis. Dengan begitu menciptakan kesempatan yang lebih besar bagi mitra usaha di desa untuk mendapatkan pendanaan yang terjangkau,” ujar Damar.

Di Indonesia, kata dia, fintech mempunyai potensi yang sangat besar. Di antaranya Indonesia memiliki populasi sangat besar yakni lebih dari 250 juta penduduk.

Selain itu, pasar kelas menengah sangat besar serta sebagian besar generasi milenial sangat familiar dengan teknologi. “Yang belum terlayani perbankan juga masih besar, sehingga potensi pembiayaan maupun aksesibilitas layanan keuangan masih terbuka lebar," jelasnya.

Di segmen mikro, kata dia, terutama di berbagai pelosok desa, masih terdapat potensi 68 juta pengusaha yang belum pernah bersentuhan dengan bank. Jika dilihat sebagai potensi pembiayaan modal, maka nilainya bisa lebih besar dari Rp 4 ribu triliun.

Damar pun memberikan materi tentang cara mengelola keuangan. Ia berharap para wanita pelaku UMKM mulai peduli dengan pengelolaan keuangan.

Ia bahkan berpesan agar mereka mulai melakukan perencaaan keuangan dari sekarang. “Buat anggaran yang disusun untuk seluruh kebutuhan pembayaran, kebutuhan keluarga dan rencana masa depan,” katanya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement