Jumat 07 Sep 2018 12:52 WIB

BUMN Dongkrak Ekspor Industri

Sejumlah BUMN berkomitmen meningkatkan ekspor demi penguatan rupiah.

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Friska Yolanda
Nelayan melaut dengan latar belakang Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/8). BPS mencatat, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia pada Januari - Juni 2018 mencapai US$88,02 miliar atau meningkat 10,03 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017.
Foto: Aji Styawan/Antara
Nelayan melaut dengan latar belakang Terminal Peti Kemas (TPK) Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/8). BPS mencatat, secara kumulatif nilai ekspor Indonesia pada Januari - Juni 2018 mencapai US$88,02 miliar atau meningkat 10,03 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berkomitmen untuk terus mendorong ekspor produk BUMN yang bergerak di bidang industri strategis. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Adapun BUMN industri strategis yang pada tahun ini berkomitmen mengekspor produknya yakni PT Pindad (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Industri Kereta Api/INKA (Persero), PT Barata Indonesia (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). "Komitmen ekspor tersebut akan tetap kami jaga demi mendukung penguatan Rupiah. Di sisi lain, ini menjadi kebanggaan bagaimana produk BUMN diakui oleh dunia," kata Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno, Jumat (7/9).

Baca juga, Pemerintah Buat Daftar Komoditas Pemacu Ekspor Jangka Pendek

Pada tahun ini, Pindad memproyeksikan dapat mengekspor produk senjata, amunisi dan kendaraan tempurnya ke Thailand, Brunei, Myanmar, Korea Selatan, Perancis serta untuk mendukung misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Nilai yang ditargetkan dalam ekspor ini mencapai Rp 78 Miliar. 

Adapun PT INKA telah memiliki kontrak ekspor kereta dengan Filipina dan Bangladesh dengan nilai masing-masing mencapai Rp 1,36 Triliun dan Rp 126 Miliar. Sementara itu, PT Krakatau Steel menargetkan ekspor baja hot rolled coil ke Malaysia dan Australia akan mencapai Rp 907 Miliar pada 2018. Serta Barata Indonesia yang akan mengekspor komponen perkeretaapian ke Amerika, Afrika dan Australia dengan target nilai mencapai Rp 210 Miliar. 

"Ada pula PT Dirgantara Indonesia yang berkomitmen ekspor pesawat terbang jenis NC212i ke Filipina dengan nilai PHP 813 juta dan CN235 ke Vietnam dengan nilai USD 18 juta," kata Harry.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement