Senin 09 Jul 2018 12:50 WIB

Perang Perdagangan Global Ancam Pertumbuhan Asia Pasifik

Asia Pasifik sangat rentan terhadap skenario perang perdagangan.

Rep: Binti Sholikah/ Red: Teguh Firmansyah
Perang dagang AS dengan Cina
Foto: republika
Perang dagang AS dengan Cina

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Keputusan AS memberlakukan tarif perdagangan pada berbagai mitra dagang utama, termasuk Cina, Uni Eropa, India, Rusia dan mitra NAFTA kunci dari Kanada dan Meksiko mengarahkan dunia ke arah perang perdagangan global.

Kepala Ekonom Asia Pasifik di IHS Markit, Rajiv Biswas, menyatakan, skenario perang perdagangan global yang meningkat dapat memangkas pertumbuhan PDB Asia-Pasifik sebanyak 1 persen pada 2019. Hal itu tergantung pada berapa lama perang dagang ini berlanjut dan seberapa jauh eskalasi akan terjadi.

Wilayah Asia Pasifik sangat rentan terhadap skenario perang perdagangan karena Cina berada di garis depan langkah-langkah tarif AS dan merupakan ekonomi terbesar di APAC (Asia Pasifik).  "Banyak ekonomi APAC lainnya juga rentan terhadap kerusakan agunan dari perang perdagangan AS-Cina yang meningkat karena rantai pasokan manufaktur Asia Timur yang terintegrasi dan pentingnya Cina sebagai pasar ekspor untuk ekonomi APAC lainnya," jelasnya melalui siaran pers, Senin (9/7). 

photo
Donald Trump

AS menerapkan tarif pajak sebesar 25 persen pada impor Cina senilai 34 miliar dolar dan mulai berlaku mulai 6 Juli 2018. Cina segera membalas dengan tarif pada jumlah yang setara dengan impor senilai 34 miliar dolar AS dari AS. Tarif tersebut menargetkan produk pertanian AS, termasuk kedelai, susu dan daging sapi serta otomotif dan suku cadang buatan AS.

Pemerintah AS berencana meningkatkan hingga 50 miliar dolar AS nilai total produk-produk Cina yang akan dikenakan tarif tarif Bagian 301. Presiden Trump juga mengindikasikan tambahan impor senilai 200 miliar dolar AS dari Cina jika Beijing memberlakukan langkah-langkah tarif pembalasan.

Pemerintah AS sedang menghitung karena defisit perdagangan barang bilateral AS yang besar dengan Cina mencapai 375 miliar dolar AS pada 2017.

Rajiv menjelaskan, AS merupakan pasar ekspor terbesar Cina, menyumbang 19 persen dari total ekspor negara Tirai Bambu tersebut.  Oleh karena itu, jika AS meningkatkan  tarifnya menjadi tambahan 200 miliar dolar AS, itu berarti sekitar setengah dari ekspor Cina ke AS akan menghadapi tindakan tarif hukuman AS yang signifikan.

Baca juga, Dunia Khawatir Perang Dagang Antara Cina dan AS.

"Sektor ekspor Cina akan mengalami penurunan daya saing ekspor yang signifikan ke AS dibandingkan dengan eksportir manufaktur pasar negara berkembang lainnya, seperti Vietnam, Korea Selatan, Thailand, Bangladesh, Meksiko, dan Brasil," terang Rajiv.

Sementara dampak terhadap AS, perang dagang dengan Cina juga dapat merusak. Khususnya tarif Cina yang menargetkan ekspor pertanian AS. Hal itu dapat menciptakan reaksi politik dari para petani AS.

"Ekspor AS ke Cina juga kemungkinan akan menghadapi hambatan non-tarif Cina yang meningkat, yang dapat merusak barang-barang yang mudah rusak, seperti produk pertanian," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement