Kamis 21 Jun 2018 11:23 WIB

Bank Sentral Dunia: Perang Dagang Membuat Ekonomi Suram

Amerika Serikat melancarkan perang dagang dengan Cina dan Eropa

Rep: Binti Sholikah/ Red: Nidia Zuraya
Perang dagang AS dengan Cina
Foto: republika
Perang dagang AS dengan Cina

REPUBLIKA.CO.ID, SINTRA -- Perang perdagangan yang berkembang antarnegara ekonomi terbesar dunia dinilai dapat membebani kepercayaan bisnis. Guna membahas perang dagang global, para pembuat kebijakan bank-bank sentral di dunia melakukan pertemuan di Sintra, Portugal, pada Rabu (20/6).

Setelah memberlakukan tarif bea impor pada sejumlah mitra dagang utamanya, Amerika Serikat awal pekan ini mengancam Cina dengan kebijakan tarif lebih lanjut senilai 200 miliar dolar AS. Hal itu diyakini bakal meningkatkan konflik dan memicu serangkaian langkah pembalasan dari hampir seluruh penjuru dunia.

Pertemuan tersebut dihadiri antara lain oleh Gubernur Federal Reserve AS, Bank Sentral Eropa, Bank of Japan dan Reserve Bank of Australia. Mereka semua memiliki pandangan suram tentang konflik perdagangan yang meningkat, dengan alasan konsekuensinya sudah terbukti.

"Perubahan dalam kebijakan perdagangan dapat menyebabkan kita harus mempertanyakan pandangan. Untuk pertama kalinya kami mendengar (dari para pemimpin bisnis) tentang keputusan untuk menunda investasi, menunda perekrutan, menunda pengambilan keputusan," kata Gubernur Federal Reserve AS Jerome Powell, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (21/6).

Analis Deutsche Bank berpendapat, AS bisa menjadi korban dari kebijakannya sendiri. Dia memprediksi hit terhadap pertumbuhan dan pendapatan perusahaan.

"Hasil analisis kami menunjukkan bahwa setiap eskalasi lebih lanjut dari sengketa perdagangan untuk mengenakan tarif bea impor 200 miliar dolar AS dapat mengurangi pertumbuhan PDB riil sekitar 0,2 hingga 0,3 persen," terang analis Deutsche Bank.

Berbicara bersama Powell, Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi menyatakan memiliki sedikit alasan untuk bersikap optimistis, dengan alasan ECB harus memasukkan langkah terbaru dari tindakan hukuman ke dalam perhitungan. "Ini tidak mudah dan belum waktunya untuk melihat apa konsekuensi dari kebijakan moneter dari semua ini, tetapi tidak ada alasan untuk bersikap optimistis mengenai itu," kata Draghi.

Dia memperingatkan dampaknya bisa datang melalui kepercayaan diri yang berkurang, investasi yang lebih rendah dan penurunan ekspor. "Semua berpotensi diperburuk oleh tindakan pembalasan," ujarnya.

ECB pekan lalu menurunkan perkiraan pertumbuhan untuk tahun ini. Draghi mengatakan pertumbuhan ekonomi yang lemah bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan ECB.

Ekonom Berenberg, Holger Schmieding, memperkirakan rata-rata dampak pada kerusakan ekonomi langsung dari perang dagang antara Amerika Serikat, Cina, dan Uni Eropa sekitar 0,1 hingga 0,2 persen dari PDB untuk negara-negara tersebut.

“Akan menimbulkan ketidakpastian yang serius dan meningkatkan biaya transaksi dari waktu ke waktu. Dalam jangka panjang, ini bisa merugikan ekonomi global selama beberapa dekade terakhir,” terang Schmieding.

Tetapi pimpinan bank sentral Jepang Bank of Japan (BoJ), Haruhiko Kuroda, mengatakan dampak terbesarnya bisa tidak langsung, yang berasal dari berkurangnya kepercayaan diri di kalangan konsumen dan pengusaha.

"Dampak tidak langsung pada ekonomi Jepang bisa sangat signifikan jika peningkatan tarif antara AS dan Cina terus berlanjut," Kuroda mengatakan pada konferensi Sintra.

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement