Kamis 17 May 2018 07:36 WIB

Dolar AS Menguat di Tengah Kenaikan Imbal Hasil Obligasi

Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 3,1 persen.

Rupiah Semakin Tertekan Dolar AS. Petugas menghitung mata uang Dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (8/5).
Foto: Republika/ Wihdan
Rupiah Semakin Tertekan Dolar AS. Petugas menghitung mata uang Dolar AS di Cash Center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (8/5).

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Kurs dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Dolar menguat karena imbal hasil obligasi pemerintah AS mencapai level tertinggi baru.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun mencapai 3,1 persen pada Rabu (16/5). Imbal hasil, sebuah barometer untuk suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) dan instrumen keuangan lainnya, baru-baru ini melonjak didorong tanda-tanda meningkatnya inflasi, yang memicu spekulasi pasar untuk kenaikan suku bunga yang lebih banyak tahun ini.

Menurut alat pelacakan FedWatch CME untuk fed fund berjangka, probabilitas bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuannya untuk keempat kali tahun ini meningkat di atas 50 persen untuk pertama kalinya

Di sisi ekonomi, produksi industri AS naik 0,7 persen pada April, mengalahkan ekspektasi sebesar 0,6 persen. Demikian catatan statistik yang dirilis oleh Federal Reserve pada Rabu (16/5).

Sementara itu, housing starts atau rumah yang baru dibangun dan dimiliki secara pribadi pada April berada di tingkat tahunan  1.287 juta unit. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi pasar.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, meningkat 0,2 persen menjadi 93,407 di akhir perdagangan.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,1802 dolar AS dari 1,1850 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,3482 dolar AS dari 1,3510 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi 0,7515 dolar AS dari 0,7473 dolar AS.

Dolar AS dibeli 110,26 yen Jepang, lebih rendah dari 110,33 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 1,0013 franc Swiss dari 1,0019 franc Swiss.

Di dalam negeri, penguatan dolar AS juga ikut menekan rupiah. Rupiah masih diperdagangan di level Rp 14 ribu.

Ekonom Samuel Sekuritas, Ahmad Mikail, di Jakarta, Rabu, mengatakan bahwa dolar AS bergerak menguat terhadap sejumlah mata uang dunia didorong meningkatnya yield obligasi Amerika Serikat (AS).

Di sisi lain, lanjut dia, pelemahan nilai tukar rupiah juga didorong data neraca perdagangan yang kembali defisit. Neraca perdagangan Indonesia pada April 2018 mengalami defisit 1,63 miliar dolar AS seiring dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement