Kamis 15 Mar 2018 22:02 WIB

Perdagangan Defisit Tiga Bulan Berturut, IHSG Tertekan

Pada saat saham mayoritas Asia menguat, IHSG tertekan hampir satu persen.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Teguh Firmansyah
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, ilustrasi
Foto: Antara
Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit sebesar 116 juta dolar AS pada Februari 2018.

 

Analis Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit dalam tiga bulan terakhir berdampak ke Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Hal itu terlihat pengaruh negatifnya ke IHSG pada hari ini.

 

"Disaat mayoritas indeks saham di Asia menguat, IHSG tertekan hampir satu persen," kata Lanjar kepada Republika.co.id, Kamis (15/3).

Meskipun begitu, Lanjar menuturkan kondisi neraca perdagangan tersebut tidak terlalu berpengaruh untuk jangka panjang. Sebab, lanjut dia, pertumbuhan ekspor Indonesia cukup baik.

Lanjar menjelaskan posisi IHSG tersebut juga terkena dampak dari sentimen global. Dia menjelaskan, kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dinilai terlalu agresif sehingga memicu perang dagang dan prospek suku bunga The Fed.

Jika sentimen tersebut sudah ada kejelasan dan langkah Bank Indonesia (BI) untuk meredam capital outflow akan menjadi momen penguatan IHSG.

"Yang mengancam nanti sudah terlihat seperti kenaikan suku bunga dan intervensi rupiah baru bisa mulai rebound IHSG kita," jelas Lanjar.

 

Baca juga,  Tak Biasa, Neraca Perdangan RI Defisit Tiga Bulan Berturut.

Secara teknikal, lanjut Lanjar, IHSG masih ada target koreksi di level 6.200. Selain itu juga ada kemungkinan bisa mempengaruhi rupiah ke angka Rp 15 ribu per dolar AS. Hanya saja, Lanjar menegaskan hal itu bisa terjadi jika capital outflow tak terbendung dan BI tidak intervensi. "Kenaikan fed rate yang lebih cepat juga bisa berdampak ke pelemahan rupiah," tutur Lanjar.

Neraca perdagangan Indonesia yang mengalami defisit sebesar 116 juta dolar AS defisit perdagangan yang terjadi dalam tiga bulan secara berturut-turut. Seperti diketahui, neraca perdagangan pada Januari 2018 tercatat mengalami defisit sebesar 756 juta dolar AS dan pada Desember 2017 sebesar 220 juta dolar AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement