Kamis 11 Jan 2018 15:25 WIB

Kementerian ESDM: Produksi Batu Bara 2017 tak Sesuai Target

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya
Tambang batu bara
Tambang batu bara

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jendral Mineral dan Batubara, Kementerian ESDM, Bambang Gatot Ariyono mengatakan realisasi produksi batu bara pada 2017 kemarin tak sesuai target. Pada RKB 2017 produksi batu bara mencapai 477 juta ton. Namun, realisasinya hanya bisa memproduksi 461 juta ton.

Bambang menjelaskan ada banyak faktor yang membuat produksi batu bara menjadi turun. Salah satunya adalah persoalan perizinan. Ia mengatakan, masih banyak pengurusan perizinan dan amdal yang belum diselesaikan oleh para perusahaan tambang.

"Macam macam lah, tapi yang utama itu tadi, karena perizinan, lalu juga masalah cuaca. Dan beberapa perusahaan memang kesulitan mendapatkan alat berat sehingga tidak bisa melakukan penambangan," ujar Bambang di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/1).

Namun, jika mengacu pada target yang dipasang oleh RPJMN Kementerian ESDM, Produksi Batu bara melebihi target. Produksi batubara sebesar 461 juta ton melebih target yang semula dipasang sebesar 412 juta ton.

Sayangnya produksi batu bara nasional tidak sepenuhnya terserap secara baik di dalam negeri. Target yang dipasang pemerintah dari RPJMN penyerapan batu bara dalam negeri bisa mencapai 121 juta ton. Namun, hingga tutup tahun realisasi penyerapan batu bara nasional hanya 97 juta ton.

Hal ini kata Bambang dipengaruhi banyak nya PLTU PLTU yang menjadi konsumsi utama produksi batu bara belum terealisasi. Pembangunan PLTU yang semula diprediksi bisa menyerap banyak batu bara nasional tidak sepenuhnya sesuai target.

"Untuk penguatan batu bara domestik ini masih belum sesuai target yang mana 2017, harusnya 121 juta ton, tapi realisasinya kurnag. Faktornya, masih belum mulainya PLTU yang sebenarnya kita plot. dan industri yang masih terkendala," ujar Bambang.

Meski begitu, ESDM tetap mentargetkan pada tahun ini produksi batu bara nasional bisa bertambah. Selain karena harganya yang menarik, Bambang menjelaskan, beberapa perusahaan pemegang PKP2B sudah menyelesaikan perizinan dan amandemen kontrak, sehingga bisa optimis dalam operasi penambangannya.

Bambang menyatakan untuk produksi sendiri, pemerintah mentargetkan produksi batu bara nasional mencapai 425 juta ton. Sedangkan untuk penyerapannya sendiri mencapai 114 juta ton pada 2018 ini.

"Target ini harapannya bisa menjamin pasokan kebutuhan sumber energi primer dan bahan baku dalam negeri serta pembangunan PLTU mulut tambang," ujar Bambang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement