Selasa 02 Jan 2018 17:00 WIB

Inflasi Jatim 2017 Lebih Tinggi Dibanding 2 Tahun Sebelumnya

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Dwi Murdaningsih
Pekerja melakukan perbaikan jaringan listrik rumah tangga di Malang, Jawa Timur, Senin (28/8). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga Mei 2017, Tarif Tenaga Listrik (TTL) di Indonesia untuk rumah tangga yang sebesar Rp1.467 per kWh adalah tarif termurah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN seperti di Filipina yang mempunyai tarif sebesar Rp2.359 per kWH, Singapura Rp2.185 per kWH, serta Thailand sebesar Rp1.571 per kWh.
Foto: Ari Bowo Sucipto/Antara
Pekerja melakukan perbaikan jaringan listrik rumah tangga di Malang, Jawa Timur, Senin (28/8). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hingga Mei 2017, Tarif Tenaga Listrik (TTL) di Indonesia untuk rumah tangga yang sebesar Rp1.467 per kWh adalah tarif termurah dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN seperti di Filipina yang mempunyai tarif sebesar Rp2.359 per kWH, Singapura Rp2.185 per kWH, serta Thailand sebesar Rp1.571 per kWh.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur Teguh Pramono menjelaskan, pada Desember 2017 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,71 persen. Artinya, selama 2017 inflasi Jawa Timur tercatat sebesar 4,04 persen, atau lebih tinggi dibanding tahun 2016 yang sebesar 2,74, dan tahun 2015 yang tercatat 3,08 persen.

"Namum yarget ini masih di bawah target nasional. Dimana target nasional inflasi sebesar 4,30 persen," kata Teguh di Kantor BPS Jatim, Jalan Raya Kendangsari Industri Nomor 43-44, Kendangsari, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Selasa (2/12).

Teguh menjelaskan, komoditas utama yang memberikan sumbangan terbesar terjadinya inflasi selama 2017 di Jatim adalah tarif listrik. Tarif listrik memberikan sumbangan utama terjadinya inflasi karena adanya pencabutan subsidi listrik untuk pelanggan kategori 900 VA yang dianggap mampu.

"Selain itu juga karena adanya kenaikan tarif listrik pascabayar pada Desember 2016 yang dampaknya baru dirasakan pada Januari 2017," ujar Teguh.

Selain listrik, komoditas utama yang memberikan sumbangan besar terjadinya inflasi selama 2017 di Jatim adalah biaya perpanjangan STNK. Adanya kenaikkan biaya perpanjangan STNK sebesar 106 persen, membuat komoditas tersebut mencatatkan sumbangan sebesar 0,45 persen dari total inflasi Jatim selama 2017.

Selain itu, komoditas utama yang memberikan sumbangan besar terjadinya inflasi adalah beras dan juga bensin. Pada Januari 2017 pemerintah telah menikkan harga BBM non subsidi, mulai pertalite hingga pertamax turbo dengan kenaikkan rata-rata Rp 300 per liter.

Selain beberapa komoditas yang mendorong terjadinya inflasi, ada juga komoditas lain yang justru menjadi penghambat laju inflasi. Sumbangan terbesar terjadinya deflasi di Jatim adalah bawang merah, bawang putih, cabai rawit, gula pasir, tarif tarif angkutan udara, semen, cabai merah, telepon seluler, melon, dan gipsum.

Harga Bawang merah, kata Teguh, selama 2017 cenderung mengalami penurunan dikarenakan melimpahnya produksi. Produksi cabai rawit yang cukup melimpah dikarenakan kondisi cuaca yang baik, juga membuat harganya relatif stabil. "Harga cabai rawit mulai merangkak di akhir tahun 2017 akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung di awal musim penghujan," ujar Teguh.

Teguh melanjutkan, sampai dengan Desember 2017, secara kumulatif Madiun menjadi kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi di Jatim. Inflasi tahun kalender yang dicatatkan Madiun mencapai 4,78 persen.

Kemudian, disusul Surabaya dengan catatan inflasi mencapai 4,37 persen, dan Kota Malang sebesar 3,75 persen. Sedangkan inflasi tahun kalender terendah di Jatim ialah Banyuwangi dan Probolinggo dengan masing-masing hanya mencapai 3,17 persen dan 3,18 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement