Senin 04 Dec 2017 12:25 WIB

BPS Ungkap Harga Pangan Dongkrak Inflasi November 2017

Red: Nur Aini
Kepala BPS Suhariyanto menggelar konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/11).
Foto: Yasin Habibi/ Republika
Kepala BPS Suhariyanto menggelar konferensi pers di kantor BPS, Jakarta, Rabu (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan kenaikan harga bahan makanan menjadi pemicu terjadinya inflasi pada November 2017 yang tercatat sebesar 0,2 persen.

Dalam periode ini, inflasi harga bergejolak juga tercatat sebesar 0,38 persen, diikuti inflasi harga bergejolak sebesar 0,21 persen dan inflasi inti sebesar 0,13 persen. Dengan demikian, tingkat inflasi tahun kalender Januari-November 2017 tercatat mencapai 2,87 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,3 persen.

"Inflasi November dipengaruhi oleh kenaikan harga cabai merah, bawang merah, dan beras," kata Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Senin (4/12).

Suhariyanto mengatakan harga komoditas tersebut mengalami kenaikan karena pengaruh musim yang tidak menentu sehingga mempengaruhi hasil produksi. Kenaikan harga cabai merah dalam periode ini memberikan andil inflasi sebesar 0,06 persen, diikuti harga beras yang memberikan andil inflasi 0,03 persen dan harga bawang merah dengan andil inflasi 0,02 persen.

"Harga beras dalam November 2017 mengalami kenaikan harga tipis, tapi bobotnya besar dalam inflasi," ujar Suhariyanto.

Harga bahan pangan yang ikut mengalami kenaikan dan memberikan andil terhadap inflasi adalah daging ayam ras, ikan segar dan telur ayam ras. Secara keseluruhan, kelompok bahan makanan tercatat memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,37 persen pada November 2017.

Kelompok lainnya yang mengalami inflasi adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,22 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,13 persen. Penyumbang inflasi lainnya adalah kelompok kesehatan sebesar 0,27 persen, kelompok sandang 0,12 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,1 persen serta kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,09 persen.

"Untuk kelompok transportasi, inflasi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga bensin jenis Pertamax di 76 kota," kata Suhariyanto.

Dari 82 kota Indeks Harga Konsumen (IHK), sebanyak 68 kota tercatat mengalami inflasi dan hanya 14 kota menyumbang deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Singaraja sebesar 1,8 persen dan inflasi terendah terjadi di Bekasi dan Palopo masing-masing 0,02 persen.

Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,74 persen dan deflasi terendah terjadi di Manokwari sebesar 0,02 persen. "Deflasi tinggi terjadi di Tual, karena turunnya harga-harga ikan segar yang dikonsumsi oleh masyarakat Tual," kata Suhariyanto.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement