Selasa 21 Nov 2017 11:52 WIB

Pembangunan LRT Palembang Kurang Sepertiga dari Target

Red: Nur Aini
Foto aerial proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) atau kereta Api Ringan di Zona A Simpang Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Minggu (17/9). Pembangunan Light Rail Transit sepanjang 23,5 km ini diperkirakan telah mencapai 60 persen dan ditargetkan rampung pada 2018 sebelum pelaksanaan Asian Games di Indonesia.
Foto: Feny Selly/Antara
Foto aerial proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) atau kereta Api Ringan di Zona A Simpang Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Sumsel, Minggu (17/9). Pembangunan Light Rail Transit sepanjang 23,5 km ini diperkirakan telah mencapai 60 persen dan ditargetkan rampung pada 2018 sebelum pelaksanaan Asian Games di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembangunan light rail transit (LRT) di Kota Palembang, Sumatera Selatan, sudah mencapai 72 persen.

"Kami sedang bergiat menyelesaikan pembangunan LRT Sumsel yang progres per November 2017 sudah mencapai 72 persen," kata kata Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan Zulfikri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (21/11).

Dia mengatakan pembangunan LRT Sumatera Selatan telah mengalami tahapan baru, jembatan LRT Sumsel yang menghubungkan sisi Seberang Ulu dengan sisi Seberang Ilir sepanjang kurang lebih 445 meter telah tersambung.

"Letak jembatan LRT Sumsel yang berdampingan dengan Jembatan Ampera membuat penumpang LRT, nantinya ketika sudah beroperasi, akan dimanjakan dengan pemandangan indah Sungai Musi," katanya.

Saat ini, selain Jembatan LRT yang sudah terbangun, LRT Sumsel yang pembangunannya dibagi menjadi lima zona juga sudah mulai terpasang rel KA. "Walaupun progres panjang rel KA terpasang di masing-masing zona tidak sama dikarenakan masing-masing zona mempunyai tingkat kesulitan sendiri-sendiri dalam pembangunannya," katanya.

Pekerjaan pembangunan LRT Sumsel ini telah dimulai sejak 2015, dibiayai dengan APBN meliputi pekerjaan konstruksi dan pekerjaan supervisi. Zulfikri mengatakan sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional Kementerian Perhubungan sangat fokus untuk menyelesaikan pembangunan LRT Sumsel ini.

Secara berkala, Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi melakukan inspeksi guna memantau kemajuan pembangunan LRT Sumsel. Hal yang juga didukung penuh oleh jajarannya, khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian yang "dimasinisi" oleh Direktur Jenderal Perkeretaapian Zulfikri.

LRT Sumsel sepanjang kurang lebih 23,4 kilometer menggunakan lebar jalur rel 1067 mm dan "third rail electricity" 750 VDC. LRT Sumsel diperlengkapi dengan 13 stasiun (Stasiun Bandara, Stasiun Asrama Haji, Stasiun Telkom, Stasiun RSUD, Stasiun Polda, Stasiun Demang Lebar Daun, Stasiun Palembang Icon, st. Dishub Kominfo, Stasiun Pasar Cinde, Stasiun Jembatan Ampera, Stasiun Polresta, Stasiun Stadion Jakabaring dan Stasiun Ogan Permata Indah).

Kemudian, satu depo (kapasitas 14 train set masing-masing tiga kereta) serta sembilan gardu listrik. Teknologi pemasangan rel KA yang digunakan adalah teknologi "slab track". "Alasan pemilihan "slab track" ini perawatan yang lebih efisien ketika nanti LRT Sumsel sudah beroperasi," katanya.

Dengan terbangunnya prasarana LRT Sumsel tersebut, yang ditargetkan Juni tahun 2018, Pemerintah berharap LRT Sumsel dapat segera dioperasikan untuk mendukung pelaksanaan Ajang Internasional Asian Games Tahun 2018 yang akan dilaksanakan di Palembang.

Selain itu, LRT Sumsel juga akan menjadi alternatif utama transportasi dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II atau sebaliknya karena dengan menggunakan LRT ini, waktu tempuh terjamin, terhindar dari kemacetan jalan raya dan biaya yang relatif terjangkau, mengingat tiket LRT tersebut mendapat subsidi dari Pemerintah melalui mekanisme keperintisan

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement