REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANCSICO -- Tiga karyawan wanita menuntut Uber Technologies Inc terkait diskrimanasi jenis kelamin dan ras yang menyebabkan tidak dibayarkannya gaji mereka. Ini merupakan hantaman terbaru bagi perusahaan jasa kemudi yang berusaha mengatasi kontroversi selama bertahun-tahun perihal budaya di tempat kerjanya itu.
Tuntutan hukum diajukan pada Selasa (24/10) di Pengadilan Tinggi San Franscisco berdasarkan sebuah posting blog yang dibaca banyak orang pada Februari dari seorang karywan Uber yang menggambarkan lingkungan kerja di sana. Salah satunya dengan mentolerisi dan mendorong pelecehan seksual.
Gugatan diajukan oleh Ingrid Avendano, Roxana del Toro Lopez dan Ana Medina, karywan Uber bagian perangkat lunak. Mereka mengatakan adanya diskriminasi orang kulit berwarna, yang mengakibatkan mereka kehilangan pendapatan, promosi dan tunjangan.
Menurut tuntutan tersebut Avendano dan Toro Lopez telah keluar dari Uber musim panas ini setelah lebih dari dua tahun di perusahaan tersebut. Sedangkan Medina masih dipekerjakan di sana. Meskipun begitu juru bcara Uber, Matthew Wing enggan berkomentar.
Gugatan ini menggambarkan sistem kerja karyawan yang tidak berdasarkan ukuran kinerja yang valid dan dapat diandalkan serta menguntungkan karyawan pria dan kulit putih atau Asia. Karyawan wanita, latino, Amerika India dan Afrika Amerika diberi skor kinerja rendah, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk maju secara profesional dan membatasi mereka dengan melakukan tugas yang lebih kasar.
Dalam sistem ini, karyawan wanita dan karyawan kulit secara sistematis dinilai terlalu rendah dibandingkan dengan rekan pria dan kulit putih mereka atau Asia Amerika. Karyawan perempuan, kulit hitam dan Latino juga kehilangan gaji, bonus, opsi saham, tunjangan dan upah lainnya karena praktik diskriminatif perususahaan.
Pengacara yang mewakili Penggugat, Jahan Sagai dari Outtten dan Golden mengatakan ketiga wanita karywan Uber ini berupaya memastikan Uber akan membayar karywan wanita tidak berdasarkan jenis kulit, namun berdasarkan kerja keras yang mereka lakukan. "Dengan begitu juga akan membuat Uber sukses nantinya," ujar Sagai.
Diketetahui Outten dan Golden pernah mewakili karywan dalam tuntutan diskriminasi gender terhadap Goldman Sach dan Microsoft Corp.