Selasa 17 Oct 2017 14:47 WIB

Kebut Pembangunan Infrastruktur, Jokowi: Kejar Daya Saing

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Nur Aini
Presiden Joko Widodo meresmikan dua ruas jalan tol di Kualanamu, Deli Serdang, Sumut, Jumat (13/10) sore.
Foto: dok. Humas Gubernur Sumut
Presiden Joko Widodo meresmikan dua ruas jalan tol di Kualanamu, Deli Serdang, Sumut, Jumat (13/10) sore.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Pemerintah saat ini tengah mengebut pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Saat memberikan orasi Dies Natalies ke-60 Universitas Diponegoro, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan alasan pemerintah gencar melakukan pembangunan. Salah satunya yakni untuk mengejar daya saing dan ketertinggalan dari negara lain.

"Kenapa infrastruktur kita bangun? Jawabannya di situ. Kita ingin daya saing kita lebih baik dari negara lain. Global competitiveness kita harus diperbaiki, tahun ini cukup lumayan meloncat dari (peringkat) 41 ke 36 dari 137 negara," ujar Jokowi di Universitas Diponegoro, Semarang, Selasa (17/10).

Ia menjelaskan, biaya transportasi logistik di Indonesia lebih mahal 2,5 kali lipat dibandingkan Malaysia dan Singapura. Artinya, untuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain itu 2-2,5 kali lipat lebih mahal.

Sehingga, barang yang dijual di Indonesia pun lebih mahal dibandingkan negara lain. Jokowi mengatakan, pada 1977 Indonesia telah membangun jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi (Jagorawi) dan selesai pembangunannya pada 1981 sepanjang 60 kilometer. Saat itu, jalan tol tersebut menjadi perhatian banyak negara, seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, Filipina, dan Cina. Namun hingga 2014, jalan tol yang dibangun di Tanah Air hanya mencapai 780 kilometer.

"Hampir 35 tahun lebih, hanya 780 kilometer padahal (negara) yang dulu lihat ke kita, yang meniru kita, saya berikan contoh di Cina setahun bisa membangun empat ribu kilometer lebih. Sekarang sudah memiliki 220 ribu kilometer. Kita 780 kilometer," kata Jokowi.

Karena itu, pemerintah saat ini tengah mengejar ketertinggalannya dalam pembangunan infrastruktur dan memfokuskan APBN pada pembiayaan infrastruktur. Bahkan, anggaran untuk infrastruktur pun sudah disiapkan dan ditingkatkan pemerintah dari Rp 177 triliun pada 2014 menjadi Rp 401 triliun pada 2017.

Dari sejumlah infrastruktur yang dibangun pemerintah, salah satunya adalah pelabuhan seperti, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Kuala Tanjung di Sumatra Utara, dan Makassar New Port di Sulawesi Selatan. Rencananya tahun depan pemerintah juga akan mulai pembangunan pelabuhan di Sorong, Papua.

"Kenapa harus kita bangun? Karena negara kita negara kepulauan, (pelabuhan) basis pondasi kemaritiman merupakan sebuah keharusan," katanya.

Demikian pula dengan pembangunan bandar udara, Indonesia sebagai negara besar yang memiliki 17 ribu pulau, tetapi tidak semua pulaunya dapat disinggahi kapal. "Oleh sebab itu juga di pulau-pulau terpencil di Natuna, Miangas, kita bangun airport. Ini salah satu contoh saja karena banyak kita bangun airport kecil itu," ujar Presiden.

Pembangunan pembangkit listrik juga tidak luput dari perhatian pemerintah. Pemerintah telah menargetkan pembangunan listrik sebesar 35 ribu MW. "Tidak apa-apa, target harus besar, ambisi harus seperti itu. Kalau tidak, daya saing kita akan tertinggal. Sekali lagi ini menyangkut daya saing kita yang tertinggal dengan negara lain," ucap Jokowi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement