Kamis 21 Sep 2017 09:43 WIB

Perbankan Dinilai Harus Perkuat Layanan Digital

Red: Nur Aini
 Suasanai BRI Digital Banking di Terminal 3 Ultimate bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (6\10).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Suasanai BRI Digital Banking di Terminal 3 Ultimate bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (6\10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perbankan nasional dinilai harus mulai beralih kepada penguatan digitalisasi sehingga dapat mengikuti perkembangan zaman di era globalisasi.

"Dunia perbankan dan lembaga keuangan tentunya tidak luput dari disrupsi digital. Perubahan ini tentunya akan mengubah paradigma klasik, bahwa perbankan identik dengan industri yang kaku karena terbentur sistem serta regulasi yang ketat," kata Ketua Steering Committee Indonesia Banking Expo (IBEX) 2017, Sis Apik Wijayanto dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (21/9).

Sis Apik Wijayanto mengingatkan pentingnya industri perbankan untuk terus mengikuti perkembangan zaman. "Saat ini, berkembang pandangan, bahwa perbankan digital menjadi salah satu jawaban untuk mengembangkan bisnis secara lebih efektif dan efesien," ucapnya.

Dia mengharapkan IBEX 2017 mampu menjembatani pertukaran ide antara masyarakat dan pelaku industri perbankan yang memiliki nilai strategis bagi kemajuan perbankan Indonesia dan berdampak positif bagi perekonomian Indonesia.

Presiden Joko Widodo mengatakan kemajuan global melalui ekonomi digital telah mendorong perubahan gaya hidup dan pola ekonomi sebuah negara. "Pertama, kita sudah amat memahami 'e-commerce'. Ada pergeseran perniagaan, perdagangan dari dunia 'offline' menuju 'online'. Kita sudah hadapi itu," kata Presiden Jokowi dalam sambutan pembukaan IBD Expo di Jakarta, Rabu (20/9). Menurut Jokowi, perkembangan e-commerce membuat pembelian atau pemesanan suatu barang atau jasa begitu instan dan mudah.

Sementara itu, CEO Go-Jek Nadiem Makarim dalam diskusi dalam acara yang sama mengatakan, Indonesia dinilai masih kekurangan banyak talenta di bidang informasi dan teknologi, padahal perkembangan ekonomi digital sedang berkembang pesat di Tanah Air, dan telah mengubah pola struktur konsumsi warga.

Nadiem Makarim mengatakan, minimnya talenta bidang teknologi infromatika (TI) harus menjadi perhatian pemerintah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah meningkatkan materi pendidikan bidang IT sejak dini.

Menurut Nadiem, "coding" atau pemograman komputer seharusnya merupakan materi yang diajarkan sejak dini. Pasalnya, kemampuan dalam bahasa pemrograman akan selalu dibutuhkan oleh industri terutama di era ini, saat transformasi ekonomi konvensional menjadi digital.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement