Selasa 01 Aug 2017 13:09 WIB

GP Ansor: Jangan Jadikan Impor Garam Solusi Jangka Panjang

Rep: Amri Amrullah/ Red: Agung Sasongko
Tumpukan garam impor tampak menggunung di sebuah gudang yang terletak di dekat exit tol  Kanci, Kabupaten Cirebon, Ahad (30/7).
Foto: Republika/Lilis Sri Handayani
Tumpukan garam impor tampak menggunung di sebuah gudang yang terletak di dekat exit tol Kanci, Kabupaten Cirebon, Ahad (30/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Gerakan Pemuda (GP) Ansor, Yaqut Cholil Qoumas menanggapi rencana pemerintah yang akan mengimpor garam ke Indonesia. Menurut Gus Yaqut, sapaan akrabnya, impor garam bukan solusi jangka panjang persoalan garam di tanah air.

"Ke depan saya kira, pemerintah tidak boleh terus menjadikan impor ini sebagai solusi. Harus mulai dipikirkan bagaimana agar Indonesia yang berlimpah air laut sebagai bahan dasar memproduksi garam bisa mencukupi kebutuhannya sendiri," kata Anggota DPR Komisi VI ini kepada Republika.co.id, Selasa (1/8).

Namun untuk sementara ini, ia menilai impor masih bisa dilakukan, selama untuk mengatasi kelangkaan dan menjaga stabilitas harga. Namun, bila impor garam berujung permainan spekulan dan kartel, apalagi merugikan petani garam, ini harus dihindari.

"Kalau untuk mengatasi kelangkaan dan menjaga stabilisasi harga sih baik-baij saja. Tetapi tetap harus diantisipasi permainan spekulan dan kartel garam. Agar tujuan import untuk mengatasi kelangkaan, tidak jadi bancakan bagi mereka," tegas Gus Yaqut.

Kelangkaan garam di pasaran menurutnya tidak lepas dari beberapa faktor. Diantaranya tingkat produksi yg rendah, manajemen yang tidak bagus, cuaca yg tidak bersahabat hingga permintaan yang terlalu tinggi. Karena itu, menurutnya persoalan ini harus dibedah satu per satu. Mana yg menjadi bagian dr tugas pemerintah dan mana yg harus dilakukan petani. Karen industri garam ini memang rumit.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement