Selasa 04 Jul 2017 11:58 WIB

Pasar Cermati Dampak Inflasi Terhadap Suku Bunga BI

Red: Nur Aini
Inflasi, ilustrasi
Foto: Pengertian-Definisi.Blogspot.com
Inflasi, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis riset perusahaan finansial FXTM Lukman Otunuga mengemukakan bahwa pasar mencermati dampak dari tingkat inflasi Juni terhadap beragam indikasi perekonomian yang ada di Tanah Air.

"Tingkat inflasi tahunan Indonesia saat ini adalah 4,37 persen dan ini mendekati batas atas dari target tahunan Bank Indonesia yaitu di kisaran 3 persen hingga 5 persen," kata Lukman Otunuga, di Jakarta, Selasa (4/7).

Menurut dia, dengan jumlah tersebut maka juga berpotensi terjadinya peningkatan spekulasi terhadap adanya kebijakan terkait kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). Ia juga mengingatkan bahwa sentimen terhadap perekonomian Indonesia semakin positif karena adanya pertanda stabilitas ekonomi, sehingga Indeks Harga Saham Gabungan tampaknya akan tetap kuat.

"Pasar memprediksi Fed (bank sentral AS) akan meningkatkan suku bunga AS lagi di tengah tahun kedua 2017," ucapnya.

Dengan demikian, ujar dia, Bank Indonesia kemungkinan akan memutuskan untuk meningkatkan suku bunga pada akhir tahun guna membantu pertumbuhan sembari melindungi rupiah dari kenaikan kurs dolar AS.

Sebelumnya Gubernur BI Agus Martowardojo memperkirakan inflasi tahun ke tahun pada 2017 akan mencapai 4,36 persen, meningkat dibanding akhir 2016 sebesar 3,02 persen. Penurunan proyeksi inflasi tahunan tersebut, menurut Agus, adalah karena koreksi yang terjadi pada dampak inflasi dari kelompok tarif yang diatur pemerintah (administered prices), khususnya dari kenaikan sebagian besar tarif listrik 900 VA tidak akan sederas yang diperkirakan sebelumnya.

Selain itu, ujar dia, pengendalian harga pangan dan komponen lainnya dari kelompok tarif barang yang bergejolak (volatile foods) dari Januari hingga Mei 2017 juga membuat Bank Sentral yakin bahwa tekanan inflasi dapat dikendalikan. Sebelumnya, Pemerintah akan terus mencermati laju inflasi dari komponen harga bergejolak (volatile food) yang termasuk di dalamnya bahan pangan pokok pada tahun 2018.

Hal tersebut disampaikan Sri Mulyani dalam Sidang Paripurna DPR terkait tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi-fraksi DPR RI terhadap kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal tahun anggaran 2018 di Jakarta, Selasa (6/6). Upaya-upaya pengendalian harga dilakukan dari sisi produsen, distribusi, hingga ke konsumen. Pemerintah berupaya keras dalam memperkuat sisi penawaran dengan dukungan kebijakan peningkatan produksi pangan, seperti perbaikan pola tanam, penyediaan produk olahan oleh industri pangan, penguatan infrastruktur logistik pangan di daerah, khususnya pergudangan, penyediaan data lalu lintas barang terutama komoditas pangan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement