Senin 19 Jun 2017 12:31 WIB

Agar Aman, BI Anjurkan Transaksi Nontunai

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Gita Amanda
Jasa penukar uang marak saat lebaran.
Foto: ANTARA
Jasa penukar uang marak saat lebaran.

REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM -- Agar aman, BI Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB) menganjurkan agar transaksi dilakukan non-tunai. Meski begitu, BI tetap melayani penukaran uang baru guna memenuhi kebutuhan masyarakat jelang lebaran.

Kepala BI Perwakilan NTB Prijono mengatakan, menjelang Idul Fitri masyarakan antusias menukarkan uang. Agar lebih aman, BI menganjurkan akan masyarakat di NTB juga menggunakan non-tunai termasuk uang elektronik. Prijono meyakinkan masyarakat agar tidak khawatir menggunakan transaksi non-tunai.

''Dengan TI yang ada, layanan dan perangkat insyaa Allah sudah baik,'' kata Prijono di sela-sela kunjungan ke lokasi penukaran uang BI bersama bank-bank Himbara di Lapangan Sangkareang, Mataram, Senin (19/6).

BI Perwakilan NTB terus menggencarkan Gerakan Nasional Non-Tunai (GNNT) dengan mengedukasi masyarakat bekerja sama dengan industri perbankan seperti ke sekolah dan kampus-kampus. ''Tapi memang masih terbatas jarak jangkau. Meski begitu, sosialisasi danbl edukasi tetap dilakukan,'' kata Prijono.

BI tetap melayani penukaran uang baru jelang Idul Fitri. Prijono meminta masyarakat juga mewaspadai uang palsu dan menukarkan uang secukupnya. Hal itu penting agar masyarakat terhindar dari pihak yang memanfaatkan kesempatan.

Sepanjang Ramadhan hingga Idul Fitri 1438 Hijriah ini, BI menyiapkan uang tunai sebanyak Rp 2,9 triliun, meningkat 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga Jumat (16/6) sudah Rp 1,1 triliun yang dilepas ke masyarakat.

Jelang Idul Fitri seperti ini, masyarakat biasanya menukar uang mereka ke pecahan kecil seperti Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000. Dari semua pecahan kecil itu, uang pecahan Rp 5.000, Rp 2.000, dan Rp 1.000 jadi yang paling banyak diburu.

Selain itu, bila melihat pola, Prijono mengatakan pertumbuhan ekonomi satu kuartal biasanya bila di dalamnya ada hari raya. Untuk 2017, BI Perwakilan NTB memprediski pertumbuhan ekonomi kuartal dua 2017 akan lebih tinggi dari kuartal pertama. ''Kalau non-tambang biasanya pertumbuhan di NTB tidak kurang dari enam persen,'' kata Prijono.

Dari pantauan harga terkini, BI yakin prakirakan inflasi kuartal dua 2017 ini bisa di bawah satu persen karena harga terkendali. Sementara pada Ramadhan 2016, inflasi sempat di atas satu persen. Meski begitu, pihaknya tetap waspada karena masih ada Lebaran Topat dan periode masuk sekolah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement