Kamis 04 May 2017 00:49 WIB

Industri dan LSM Terapkan Metode Global untuk Praktik Nondeforestasi

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Budi Raharjo
TARAKAN -- Foto udara lokasi penebangan di kawasan hutan Kalimantan Timur, Senin (16/7). Hasil riset Heart of Borneo (HoB) menyebutkan hutan alam seluas kurang lebih 22 juta hektar di wilayah Kalimantan dan sekitarnya terancam oleh alih fungsi ke pertamban
Foto: Antara
TARAKAN -- Foto udara lokasi penebangan di kawasan hutan Kalimantan Timur, Senin (16/7). Hasil riset Heart of Borneo (HoB) menyebutkan hutan alam seluas kurang lebih 22 juta hektar di wilayah Kalimantan dan sekitarnya terancam oleh alih fungsi ke pertamban

REPUBLIKA.CO.ID,BADUNG -- Koalisi gabungan antara pelaku industri dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) meluncurkan toolkit untuk praktik nondeforestasi. Metodologi global ini mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas bertanggung jawab dan melindungi hutan alam.

High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit menjadi terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi, dan praktisi teknis yang berkomitmen melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi. HCS Approach Toolkit juga menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati, dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

"Deforestasi atau membabat hutan alam untuk perkebunan itu cara lama di masa lalu," kata Co-Chair HCS Steering Group, Grant Rosoman dijumpai di Jimbaran, Bali, Rabu (3/5).

Toolkit ini baru diaplikasikan pada 2015 dan selama dua tahun terakhir sudah digunakan para pemangku kepentingan. Wilmar Group dan Musim Mas Group adalah dua perusahaan sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mengadopsi metodologi ini.

Metodologi HCS Approach, kata Rosoman sudah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan, dan penerapan terhadap cadangan data karbon. Ini mencakup teknologi termasuk penggunaan LiDAR untuk optimalisasi konservasi dan hasil produksi yang bisa diadaptasi petani kecil.

Sebanyak 10 juta hektare (ha) hutan di dunia diterapkan HCS Approach Toolkit. Rosoman mengatakan parameter suksesnya adalah banyaknya kerja sama yang sudah dilakukan HCS dengan grup perusahaan, LSM, dan pihak terkait lainnya. "Dari 10 juta ha tersebut, sejak diluncurkan dua tahun terakhir, sebanyak setengah juta ha sudah berhasil dikonservasi," katanya.

Anggota dari HCS Approach Steering Group yang mewakili Musim Mas, Petra Meekers mengatakan metodologi ini mengintegrasikan HCS dengan perencanaan konservasi di Musim Mas, Wilmar, dan perusahan-perusahaan penyuplai di bawahnya. Integrasinya bukan hanya dalam bisnis, namun juga skala lansekap.

"Banyak sekali area hutan terfragmentasi dan terpisah-pisah. Bagaimana caranya menerapkan konservasi? Metodologi HCS ini menjadi tambahannya di atas usaha-usaha konservasi yang sudah dilaksanakan perusahaan," katanya.

Metodologi HCS Approach Toolkit secara ilmiah bisa diterima kalangan luas untuk mengimplementasikan komitmen dalam menghentikan penggundulan hutan tropis, sembari menjaga hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal. Metode ini pada mulanya dikembangkan Golden Agri Resources berkolaborasi dengan Greenpeace dan TFT pada 2011-2012.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement