Jumat 10 Mar 2017 10:14 WIB

Memupuk Masa Depan Keluarga Bersama BTN

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nidia Zuraya
Warga berjalan di perumahan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank BTN di Kelurahan Tegal Gede, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Kamis (9/3).
Foto: Antara/Seno
Warga berjalan di perumahan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank BTN di Kelurahan Tegal Gede, Sumbersari, Jember, Jawa Timur, Kamis (9/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dani Nugraha, hanya salah satu warga Bandung yang kini bisa bernafas lega karena sudah tak perlu memikirkan cara untuk membayar kontrakan. Sejak 2013 dia bersama istri menempati sebuah rumah di Kabupaten Bandung, setelah melakukan akad Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dari Bank Tabungan Negara (BTN) pada 2012. 

Pada 2011 hingga 2012, Dani masih menempati kontrakan sepetak bersama istri. Saban hari ia banting-tulang untuk membayar biaya bulanan kontrakan sebesar Rp 500 ribu. 

Gaji sebagai karyawan swasta di salah satu perusahaan di Bandung, harus disisihkan untuk membayar sewa kontrakan per bulan. Besaran gajinya pun tidak seberapa, hanya setara dengan UMR Jawa Barat.

Sempat ada kekhawatiran memang, dengan gaji sebesar itu, ia akan sulit memiliki rumah. Dari situlah Dani mulai menyadari, bahwa dia terus membayar sesuatu yang tidak akan menjadi miliknya. Kontrakan yang terus dia bayarkan per bulan, di masa depan tetap milik orang lain. 

Pun, gaji yang diterima per bulan, sekitar 30 persennya habis untuk membayar kontrakan sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lain. Jika kondisi ini tak berubah, ia akan terus tinggal di sana, tanpa kejelasan masa depan.  

Apalagi, saat masih tinggal di kontrakan, banyak tetangga Dani yang bernasib lebih kurang beruntung ketimbang dirinya. Sebab, ada sebagian tetangganya yang tinggal di kontrakan dengan kondisi anak sudah besar dan bahkan telah memiliki cucu.

"Dari situ mulai, masak mau begini-begini terus. Nyari-nyari informasi dari teman-teman, kerabat. Ada Perumnas di sini (Kabupaten Bandung), pengembangnya pakai BTN, DP-nya murah cicilannya murah, saya ajuin, dapat," tutur dia kepada Republika, pekan lalu.

Pada 2012, Dani melaksanakan akad KPR BTN untuk sebuah rumah di Blok D17, Bumi Parahyangan Kencana, Desa Bandasari, Cangkuang, Kabupaten Bandung. Uang mukanya saat itu sekitar Rp 10 juta, dengan cicilan sekitar Rp 700 ribu selama 15 tahun.

"Selama ini kan sudah berpuluh-puluh tahun di Indonesia, yang terkenal bank (dengan) KPR-nya ya BTN. Sampai-sampai di kita kan ada perumahan BTN. Brand image-nya di masyarakat mah BTN sebagai penyedia rumah," kata pria kelahiran Garut ini.

Menurut Dani, kehadiran BTN tentu membuat banyak orang bisa memiliki rumah dengan mudah demi masa depan keluarga yang lebih baik. Ya, seperti kata pepatah, rumahku adalah istanaku. Dan tinggal di rumah dengan nyaman, tentu impian semua orang, termasuk Dani. Sekarang, kebutuhan Dani terhadap rumah telah terpenuhi.

"Sekarang dengan kredit rumah BTN ini kan walaupun bayar Rp 700 ribuan, tapi kan manfaatnya jadi milik saya. Jadi ada masa depan buat saya dan keluarga. Jadi lebih jelas. Kalau dulu-dulu kan ngontrak bulanan Rp 500 ribu. Nggak bisa punya rumah buat masa depan nanti, namanya juga rumah orang," ujar dia.

Kini Dani beserta istri telah mempunyai dua anak. Anak pertama berusia 4 tahun, dan anak kedua baru saja lahir beberapa bulan lalu. Dalam perkiraannya, kredit rumah ini sudah bisa lunas saat anak pertamanya menginjak pendidikan Sekolah Menengah Pertama, atau saat awal mengenyam Sekolah Menengah Atas.

Terkadang Dani merasa sukar membayangkan sebab pada akhirnya ia bisa memperoleh jaminan kepemilikan rumah melalui kredit di BTN. Karena, bagi pasangan yang baru menikah seperti dia saat itu, tempat tinggal memang kerap menjadi persoalan. Sebagian pasangan memilih untuk menempati kontrakan lebih dulu sebelum akhirnya bisa menyicil kredit rumah yang disediakan BTN.

Cicilan Terjangkau

Sementara itu, pengguna KPR BTN yang lain, Ade Rifaldi, pun mengakui pembayaran uang muka dan cicilan KPR BTN memang terjangkau. Ini membuat pasangan pengantin baru sepertinya bisa dengan mudah memiliki rumah di Pesona Hijau Residence, di daerah Rancaekek, Bandung.

Ade yang bekerja sebagai karyawan swasta di Bandung ini, melakukan akad KPR di sana pada 2015. Akad tersebut dilakukannya hanya dua tahun setelah dirinya menikah pada 2013. Bagi dia, keberadaan kredit rumah BTN memberikan kepastian soal kepemilikan rumah demi masa depan keluarganya kelak.

Selain itu, menurut Ade, karena cicilan bulanannya terjangkau, pendapatan yang dia peroleh per bulan bisa disisihkan untuk keperluan modal bisnis yang tengah dijalaninya. Bisnis yang sedang dijalankan ia bersama istrinya yaitu madu alami. Ade dan istrinya memasok madu alami ke daerah Bandung dan juga Jakarta.

Dari usaha ini, ia bisa memperoleh pendapatan tambahan. Omzetnya pun cukup tinggi di kelasnya, yakni antara Rp 2 hingga Rp 3 juta per bulan. "Alhamdulillah, karena masih ada sisa dari pendapatan bulanan, ya disisihkan untuk bisnis, buat nambah-nambah (pendapatan) aja," ujar dia.

Seorang pegawai negeri sipil sekaligus guru di SDN 03 Serdang di Kemayoran, Maqdalena, juga merasa telah menerima manfaat dari kehadiran kredit rumah BTN itu. Melalui kredit itu, ia bisa berinvestasi dengan mengambil kredit rumah di Graha Melasti, daerah Tambun, Bekasi, pada 2004 lalu.

"Ini hitung-hitung nabung tiap bulan, kalau beli itu kan enggak ada ruginya. Apalagi angsuran di BTN itu flat, tetap, enggak mengikuti bunga yang sekarang. Terus juga kalau ada keterlambatan itu selalu dikasih tahu oleh BTN-nya," kata perempuan berusia 52 tahun ini.

Pada 2004, lokasi rumah yang ia kreditkan memang berada di kawasan yang masih sepi. Namun, saat ini, lokasinya sudah mulai ramai sehingga strategis nantinya untuk masa depan dia dan juga anak ataupun cucunya. "Sekarang kan lokasinya sudah ramai. Transportasinya juga sudah lancar. Ya buat investasi saja," kata dia yang menyicil rumah dengan angsuran Rp 355 ribu per bulan ini.

Hingga 2016 kemarin, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi sektor properti bagi pendapatan domestik bruto (PDB) 2016 baru sebesar 2,81 persen. Angka ini menunjukkan ruang bagi sektor properti untuk berkembang di Indonesia masih besar. 

Seperti dalam laman resmi BTN, lapangan usaha real estate nantinya juga diprediksi akan mengalami peningkatan bisnis tertinggi pada kuartal I 2017. Meningkatnya bisnis ini mampu ditunjang dengan adanya kenaikan permintaan dari dalam negeri dan harga jual. Kenaikan permintaan terhadap rumah, di antaranya karena Program Sejuta Rumah tak hanya membutuhkan aliran pembiayaan pemilikan rumah yang lebih besar, tapi juga pasokan rumah yang lebih banyak.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Maryono menuturkan pihaknya akan terus menjaga komitmen perusahaan untuk memberikan kemudahan akses kepada masyarakat agar bisa memiliki rumah idamannya. Program Satu Juta Rumah BTN juga berupaya untuk menjangkau berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah.

"Kami akan tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan dengan berbagai produk sehingga bisa dinikmati masyarakat dari berbagai segmen," kata dia melalui pesan singkatnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement