Kamis 01 Dec 2016 14:57 WIB

Korindo Group Tingkatkan Investasi di Papua

Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Nidia Zuraya
Manajer Public Relations Korindo, Hur-Young Soon (kiri) saat bersilaturahim dengan awak media di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/11) malam.
Foto: Satria Kartika Yudha
Manajer Public Relations Korindo, Hur-Young Soon (kiri) saat bersilaturahim dengan awak media di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/11) malam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Korindo Group akan meningkatkan investasi di Papua. Korindo yang sudah berinvestasi selama puluhan tahun di Papua, sedang menjajaki bisnis pertanian padi dan mengembangkan pembangkit listrik biomassa melalui anak perusahaannya.

Manajer Public Relations Korindo, Hur-Young Soon, menjelaskan, bisnis pertanian padi akan digarap PT Indo Sawah Lestari di Kabupaten Merauke. Korindo pada tahap awal berencana membuka lahan seluas 1.000 hektare (ha) dari target 10 ribu ha.

"Sekarang masih dalam proses perizinan, uji coba, dan penjajakan kerja sama dengan berbagai pihak," katanya saat berbincang dengan awak media di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu (30/11) malam.

Wanita dengan nama panggilan Ayu tersebut mengatakan, peningkatan investasi bukan hanya untuk kepentingan perusahaan. Namun juga untuk mendukung langkah pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan.

Ayu optimistis, rencana pembangunan lahan pertanian padi akan memberikan manfaat bagi rakyat Papua, khususnya di Merauke. Selama ini, Papua masih  mengandalkan pasokan dari Pulau Jawa. Sehingga, harga beras di Papua mahal karena tingginya biaya distribusi.

Dia mengatakan, Korindo belum lama ini  membangun beberapa pasar tradisional di Papua. Dengan begitu, padi yang sudah dipanen bisa langsung dijual ke pasar dan dibeli masyarakat.

"Kalau menunggu beras dari Jawa lama datangnya dan biaya distribusinya mahal," ujar dia.

Korindo menggandeng Korea Rural Community Corporation untuk menerapkan teknologi penanaman padi Korea Selatan di Merauke. "Supaya keahlian yang ada di Korea, bisa ditransfer ke sini," kata Ayu.

Selain membuka lahan pertanian padi, Korindo juga akan mengembangkan pembangkit listrik biomassa di Kabupaten Jayapura. Rencananya, pembangkit listrik tersebut berkapasitas 10 MW.

Ayu mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tersebut sejalan dengan visi pemerintah yang sedang mengoptimalkan energi baru dan terbarukan sebagai sumber energi listrik. "Ini juga upaya membantu pemerintah menyediakan listrik di wilayah Timur," ujar dia.

Sebelumnya, Direktur Government Affairs Korindo Tulus Sianipar menyampaikan, anak usaha Korindo yang akan melakukan pendirian pembangkit adalah PT Biomassa Papua Lestari. Perusahaan, kata dia, sudah dua kali melakukan sosialisasi kepada pemerintah daerah terkait pengembangan biomassa.

Korindo juga sudah melakukan sosialisasi sebanyak empat kali kepada masyarakat sebagai pemilik lahan ulayat.  "Hanya mungkin kita belum menemukan titik temu karena biar bagaimanapun kalau investasi di Papua, kunci utamanya penerimaan dari masyarakat," kata Tulus.

Ia mengatakan, kesepakatan dengan Pemprov Papua berupa penyediaan lahan, baik itu dari pelepasan hingga kemudahan perizinan. Namun, perusahaan hingga kini masih berupaya melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Korindo mengajukan permohonal areal lahan seluas 12 ribu hektare. Namun, kemungkinan yang layak digunakan seluas 7.200 hektare. Areal tersebut akan ditanami tanaman bagi biomassa dan pembangkitnya.

"10 MW bisa menjangkau seluas kabupaten (Jayapura), dan ini bukan orientasi bisnis, tapi lebih kepada sumbangsih kami bagi tanah Papua," ujar Tulus.

Tulus belum bisa mengungkapkan nilai investasi yang dibutuhkan. Saat ini, perusahaan pun belum mampu melakukan uji coba pembangkit di areal seluas 100 hektare karena masyarakat belum bersedia.

Sebagai informasi, kata dia, Korindo sudah membangun pembangkit listrik biomassa di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Pembangkit listrik dan hutan tanaman industri di Pangkalan Bun berdiri di atas areal 30 ribu hektare. Tanaman yang digunakan sebagai pembangkit adalah eucalyptus pelita dan jabon merah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement