REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kementerian Pertanian (Kementan) RI bekerjasama dengan Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Korea Selatan (Korsel) membangun sistem pengelolaan data tebu industri secara daring (online). Kementan Republik Korsel melalui EPIS (The Korea Agency of Education, Promotion and Information Servise in Food, Agriculture Forestry and Fisheries) memberikan bantuan berupa hibah dalam bentuk sosialisasi dan pelatihan pelaporan tebu/gula secara online untuk pabrik-pabrik gula di 10 provinsi, yakni Jatim, Jabar, Jateng, DI Yogjakarta, Sumut, Sumsel, Lampung, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan NTB.
Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian Leli Nuryati mengatakan penerapan sistem pengelolaan data pangan nasional untuk tebu industri tersebut berkaitan dengan sistem pelaporan data tebu nasional sehingga dapat disajikan secara cepat dan akurat kepada seluruh stakeholder terkait. Akan tetapi dalam kerangka dasarnya, sistem tersebut untuk membangun sistem informasi pangan nasional dan mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia.
"Di sisi lain, dapat memprediksi permasalahan dalam pengembangan tebu dan kapan akan terjadi suplus," katanya, Jumat (25/11).
Variabel yang akan dikumpulkan atau diinput dalam pengelolaan data tersebut yakni meliputi luas tanam tebu, luas panen tebu, jumlah tebu yang digiling, rendemen tebu, produksi gula kristal putih, produktivitas gula kristal putih, serta variabel penunjang lainnya. Selain data tebu, ke depan semua data pangan dibangun secara online. Saat ini Kementan sudah mengembangkan satelit landsat-8 dari LAPAN.
Kepala Subdirektorat Tanaman Tebu dan Pemanis Lainnya, Gede Wirasuta mengatakan potensi komoditi tebu Indonesia yang cukup besar menjadikan pemerintah harus mampu menyajikan data secara cepat dan akurat kepada seluruh stakeholder yang terkait. Menurut dia, membangun sebuah data memang mahal, tetapi akan lebih mahal jika akan membangun tanpa memiliki data.
Ia menambahkan satu contoh kemudahan yang akan diperoleh dengan beroperasionalnya sistem ini adalah kecepatan, ketepatan, dan keakuratan data yang diperoleh. Selain itu, dapat mempermudah bagi pihak pemerintah untuk menentukan kebijakan, arah dan strategi dalam pengembangan tebu di Indonesia.
“Bila kita kaitkan dengan program saat ini sedang kita bangun, di mana peta perjalanan pengembangan tebu (roadmap) memuat informasi dan data secara lengkap, tepat, dan cepat, maka akan mempermudah melakukan analisis data dan mempercepat proses penyelesaian permasalahan yang terjadi untuk menghasilkan langkah kebijakan, arah, dan strategi pengembangan tebu dan gula ke depan,” kata dia.
Sementara itu, Ketua Tim EPIS Sang-Hun Lee menyampaikan pembangunan sistem pengelolaan data tebu secara online ini akan disupport Kementerian Pertanian dan Urusan Pedesaan Korsel. Menurutnya, pertanian indonesia sudah relatif maju dan sistem pendataan pangan cukup bagus yakni berbasis teknolog informasi.
"Ke depannya perlu ditingkatkan lagi, sehingga benar-benar dapat memberikan data pangan yang cepat dan akurat untuk semua pemangku kepentingan," kata dia.