Rabu 01 Apr 2026 09:06 WIB

Pengamat Sebut Ilustrasi Mentan Soal CPO Disalahartikan, Bukan Bandingkan Selat Hormuz

Indonesia menguasai lebih dari 60 persen pasar ekspor CPO global.

Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.
Foto: istimewa
Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia dengan pangsa lebih dari 60 persen produksi global memiliki posisi strategis untuk mengendalikan rantai nilai industri sawit melalui penguatan sektor hilir.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pengamat pertanian dari Aliansi Petani Bersatu, Deby Syahputra menegaskan bahwa pernyataan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait kekuatan crude palm oil (CPO) Indonesia tidak dimaksudkan untuk membandingkan dengan Selat Hormuz. Menurutnya, pernyataan itu sebagai ilustrasi besarnya pengaruh Indonesia di pasar global.

“Pernyataan tersebut adalah bentuk gambaran betapa kuatnya posisi Indonesia dalam ekspor CPO. Jadi sangat keliru jika dipahami sebagai perbandingan dengan Selat Hormuz,” ujar Deby, Rabu (1/4/2026).

Menurut Deby, narasi yang menyebutkan adanya perbandingan tersebut merupakan bentuk framing yang tidak tepat dan berpotensi menyesatkan publik. Ia menilai, pernyataan Mentan justru ingin menekankan bahwa Indonesia memiliki daya tawar yang sangat besar dalam perdagangan komoditas strategis dunia.

“Jangan disalahartikan apalagi diframingkan,” katanya.

Indonesia, lanjutnya, saat ini menguasai lebih dari 60 persen pasar ekspor CPO global. Dengan dominasi tersebut, Indonesia memiliki kemampuan untuk memengaruhi stabilitas pasokan dan harga di pasar internasional.

“Dalam skenario ekstrem, jika ekspor dihentikan, maka industri di berbagai negara seperti Jepang, Amerika Serikat, hingga Eropa akan terdampak signifikan,” kata dia.

Deby menambahkan kekuatan ini seharusnya dimanfaatkan secara strategis oleh pemerintah untuk memperkuat posisi Indonesia, termasuk melalui kebijakan hilirisasi. Upaya ini dinilai penting agar CPO tidak hanya diekspor dalam bentuk mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti margarin, oleokimia, hingga produk perawatan kulit.

Kan sekarang pemerintah sedang mengarah pada hilirisasi,” katanya.

Sementara itu, Mentan Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa dominasi Indonesia atas komoditas kelapa sawit merupakan aset strategis nasional yang dapat digunakan untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan kemandirian bangsa.

Dengan pengelolaan yang tepat, sektor kelapa sawit diyakini tidak hanya menjadi penopang ekspor, tetapi juga motor penggerak industrialisasi berbasis sumber daya alam di dalam negeri.

“Jadi sekali lagi kekuatan sawit kita ini sangat besar sekali terutama dalam memperkuat kemandirian bangsa,” kata Amran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement