REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menahan BI 7 Day Reverse Repo Rate di 4,75 persen dinilai tepat untuk menahan laju capital outflow.
Ekonom Kenta Institute, Eric Sugandi menilai keputusan ini sudah tepat karena pada saat ini rupiah dan pasar finansial Indonesia sedang tertekan akibat ekspektasi pelaku pasar mengenai kemungkinan naiknya suku bunga acuan AS Fed Fund Rate, serta ketidakpastian mengenai bagaimana kebijakan ekonomi AS di bawah Trump.
"Walau pagi ini rupiah tertekan, tapi rupiah akan lebih parah tertekan bila BI memangkas BI 7 day Reverse Repo rate kemarin," ujar Eric pada Republika, Jumat (18/11).
Pada pembukaan perdagangan pagi ini, rupiah melemah 20 poin di level 13.393 per dolar AS, lebih rendah dari penutupan hari sebelumnya yang sebesar 13.373 per dolar AS, berdasarkan data Bloomberg. Kurs rupiah terus melemah hingga di kisaran Rp 13.400 per dolar AS.
Eric menjelaskan, capital outflows dan tekanan terhadap rupiah tetap terjadi karena investor portofolio global cenderung mengurangi penempatan dana di emerging markets, sambil menunggu perkembangan di AS. Termasuk keputusan suku bunga acuan AS FFR dan kejelasan arah kebijakan Trump.
Namun, secara fundamental ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang baik. "Inflasi dan defisit transaksi berjalan terkendali, pertumbuhan PDB juga tidak jelek di tengah lemahnya harga komoditas energi," katanya.
Dengan adanya ketidakpastian di pasar keuangan global akibat kondisi ekonomi AS, Eric memperkirakan sampai akhir tahun ini suku bunga kebijakan BI akan tetap ditahan.