Selasa 15 Nov 2016 15:58 WIB

HIMKI: Target Ekspor Mebel Rotan 500 Juta Dolar AS pada 2020

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Nidia Zuraya
Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel rotan tahap akhir di salah satu pusat usaha penjualan mebel rotan. ilustrasi
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja menyelesaikan pembuatan mebel rotan tahap akhir di salah satu pusat usaha penjualan mebel rotan. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menargetkan pertumbuhan ekspor mebel berbahan baku rotan mencapai 500 juta dolar AS. Target ini dirasa memungkinkan karena Indonesia merupakan pemain mebel rotan terbesar di dunia.

Wakil Ketua HIMKI Abdul Sobur mengatakan, Indonesia memiliki rotan sebagai kekayaan yang tidak dimiliki negara lain. Hampir 85 persen sumber rotan yang ada di dunia tumbuh di Indonesia. Hal tersebut membuat industri mebel dari bahan baku rotan di Indonesia mendominasi pangsa pasar dunia.

"Kita sekarang pengendali rotan. Kita merupakan yang terbesar di dunia," kata Abdul dalam acara Forum Rattan Internasional di Kantor Kementerian Perindustrian, Selasa (15/11).

Namun, meski menjadi bahan baku rotan melimpah, pelaku industri rotan dalam negeri masih belum seutuhnya menguasai pasar dunia. Pertumbuhan ekspor mebel dari rotan belum menunjukan performa menanjak dibandingkan ketika memasuki era keemasan pada 2005 dengan total ekspor mebel rotan mencapai sekitar 500 juta dolar AS.

Setelah tahun 2005, penjualan mebel rotan perlahan redup. Hal tersebut dikarenakan bahan baku rotan mulai banyak yang dijual ke negara-negara penghasil mebel seperti Italia, Jerman, Cina, hingga Jepang. Beruntung melalui peraturan menteri perdagangan, bahan baku rotan akhirnya tidak boleh diekspor mulai 2012. Peraturan ini berhasil membendung banjir rotan yang banyak diperjualbelikan ke negara lain.

Abdul mengatakan, jumlah nilai ekspor yang mulai tumbuh pada 2012 sempat naik mencapai ratusan persen pada 2014, tetapi kembali menurun pada 2015 yang pertumbuhannya berkisar 15-20 persen. Nilai penjualan ekspor mebel pada 2015 ditaksir baru mencapai 200 juta dolar AS.

"Turun. Tapi pertumbuhan ini sesuai. Walaupun kita akan genjot lagi," ujarnya.

Sulitnya bahan baku yang rotan karena peraturan dari Pemerintah mengenai larangan ekspor, membuat banyak perusahaan mebel dari luar negeri tertarik membuat industri mebel rotan di dalam negeri. Perusahan dari Italia, Jerman, dan Jepang telah memperlihatkan minat baik untuk berinvestasi membangun industri mebel rotan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement