Jumat 04 Nov 2016 18:26 WIB

BI: Indeks Keyakinan Konsumen Naik

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nidia Zuraya
Konsumen/ilustrasi
Foto: IST
Konsumen/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Oktober naik 6,8 poin menjadi 116,8. Kenaikan ini disebabkan oleh Indeks Kondisi Ekonomi saat ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), yang tercatat naik masing-masing 7,2 poin dan 6,4 poin dari bulan sebelumnya menjadi 103,2 dan 130,4.

“Hal ini karena ekspektasi ketersediaan lapangan kerja meningkat,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI dalam laporan Survei Konsumen Oktober, Jumat (4/11).

Indeks Keyakinan Konsumen diperoleh dari rata-rata Indeks Kondisi Ekonomi saat ini dan Indeks Ekspektasi Konsumen. Indeks kondisi ekonomi saat ini menggambarkan keyakinan konsumen terhadap perekonomian pada Oktober. Sementara Indeks Ekspektasi Konsumen adalah optimisme konsumen terhadap perekonomian hingga enam bulan kedepan.

Berdasarkan laporan BI, hasil survei juga menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga mengalami perlambatan pada Januari 2017. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) 3 bulan mendatang yang tercatat turun 3,1 poin dari bulan sebelumnya menjadi 165,6. 

Perlambatan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas, dengan perlambatan terbesar terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau.

Tirta menjelaskannya, Indeks Kondisi Ekonomi yang naik didapat dari peningkatan indeks penghasilan dan indeks ketepatan waktu pembelian barang tahan lama masing-masing 2,6 dan 9,5 poin. Peningkatan terjadi pada indeks ketersediaan lapangan kerja, yang sebelumnya stagnan bahkan cenderung menurun, pada Oktober justru naik 9,5 poin menjadi 9,5 poin menjadi 89.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen mengalami naik 6,4 poin menjadi 130,4. Sama seperti yang terjadi pada Indeks Kondisi Ekonomi saat ini, kenaikan ini ditopang oleh indeks ekspektasi ketersediaan tenaga kerja yang naik 9,8 poin menjadi 114,5. Hal itu menunjukkan bahwa hingga enam bulan ke depan konsumen yakin penyerapan tenaga kerja akan meningkat. Indeks ekspektasi penghasilan dan indeks ekspektasi kegiatan usaha hingga enam bulan kedepan naik masing-masing 1,6 dan 7,9 poin.

Data tersebut menunjukan optimisme konsumen terhadap perbaikan ekonomi hingga enam bulan kedepan meningkat. Alasannya, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja yang meningkat cukup besar. Kondisi ini kemudian didorong pula oleh penurunan Indeks Ekspektasi Harga sebesar 3,1 poin, yang menunjukan inflasi diperkirakan membaik.

“Perlambatan kenaikan harga diperkirakan terjadi pada hampir seluruh kelompok komoditas. Terbesar terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, tembakau, dan bahan makanan,” jelas Tirta.

Dalam survei ini, BI juga mencatat kondisi keuangan konsumen saat ini yang dilihat dari porsi pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan (debt to income ratio) dan porsi tabungan terhadap pendapatan (savings to income ratio) turun 0,3 persen dan 0,5 persen dibanding September. Sementara itu, porsi pendapatan responden untuk konsumsi (average propensity to consumen ratio) turun 0,6 persen dari bulan sebelumnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement