Senin 10 Oct 2016 18:14 WIB

Survei BI Tunjukkan Kegiatan Dunia Usaha Menurun

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
 Logo Bank  Indonesia, Bank Indonesia
Foto: Reuters/ Iqro Rinaldi
Logo Bank Indonesia, Bank Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) mencatat, hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) mengindikasikan bahwa kegiatan usaha pada kuartal III 2016, secara tiga bulan, tumbuh tidak setinggi kuartal sebelumnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara menjelaskan, hal ini sesuai dengan pola historis sesudah Ramadhan dan Idul Fitri. Penurunan pertumbuhan tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 13,20 persen, lebih rendah dibandingkan 18,40 persen pada Kuartal II-2016.

"Pertumbuhan kegiatan usaha yang terbatas tersebut terutama disebabkan oleh perlambatan sektor industri pengolahan, khususnya subsektor industri makanan, minuman dan tembakau sejalan dengan berakhirnya faktor musiman," ujar Tirta, Senin (10/10).

Sejalan dengan hal tersebut, rata-rata kapasitas produksi terpakai pada kuartal III 2016 berada di level 76,21 persen, lebih rendah dibandingkan 77,01 persen pada kuartal sebelumnya. Kegiatan investasi dunia usaha juga terindikasi tumbuh lebih lambat dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara penggunaan tenaga kerja terindikasi mengalami kontraksi.

Kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal III 2016 terindikasi tumbuh melambat dengan SBT sebesar 1,09 persen, lebih rendah dari 3,41 persen pada kuartal sebelumnya. "Hal ini sejalan dengan nilai Prompt Manufacturing Index (PMI) kuartal III 2016 yang berada pada level kontraksi sebesar 48,74 persen, turun dari 52,38 persen pada kuartal II-2016," ujarnya.

Berdasarkan komponen pembentuk PMI, kata Tirta, kontraksi PMI sektor industri pengolahan disebabkan oleh kontraksi pada hampir seluruh komponen, terutama indeks volume pesanan dan indeks jumlah tenaga kerja yang tercatat masing-masing sebesar 47,01 persen. Sesuai pola historis, pertumbuhan kegiatan usaha pada kuartal IV 2016 juga diperkirakan tidak setinggi kuartal sebelumnya. Hal ini terindikasi dari SBT kegiatan usaha pada kuartal IV 2016 yang sebesar 0,34 persen.

Tirta menuturkan, terbatasnya kegiatan usaha terutama disebabkan oleh kontraksi pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan dan sektor pertambangan dan penggalian. Di sisi lain, kinerja sektor industri pengolahan pada kuartal IV 2016 diperkirakan meningkat (SBT 1,12 persen naik dari 1,09 persen pada kuartal III 2016).

Sejalan dengan hal ini, PMI industri pengolahan pada kuartal IV 2016 diperkirakan sebesar 51,69 persen, atau berada pada level ekspansi, terutama didorong oleh ekspansi indeks volume produksi dan indeks jumlah tenaga kerja yang masing-masing tercatat sebesar 61,29 persen dan 50,22 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement