Ahad 02 Oct 2016 09:16 WIB

Kementan Klaim Punya Terobosan Atasi Paceklik

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Nur Aini
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjalan di pematang sawah usai memanen padi perdana di Desa Rambigundam, Rambipuji, Jember, Jawa Timur, Rabu (3/2).
Foto: Antara/Seno
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berjalan di pematang sawah usai memanen padi perdana di Desa Rambigundam, Rambipuji, Jember, Jawa Timur, Rabu (3/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Produksi padi yang bersifat musiman setiap tahun mengenal musim paceklik dan musim panen raya. Selama puluhan tahun terjadi paceklik pada Oktober hingga Januari akibat dari luas tanam padi Juli-Oktober rata berkisar 485 ribu hingga 796 ribu hektare. Namun kini Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya mengubah hal tersebut.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pihaknya telah melakukan terobosan dalam nengatasi ancaman musim paceklik terhadap produksi padi. Paceklik bahkan pada periode November-Januari memaksa pemerintah impor beras akibat stok beras berkurang.

Cara mengatasi paceklik tersebut yakni dengan cara menanam padi pada lahan tadah hujan dan lahan kering melalui pemanfaatan jaringan irigasi, menggerakkan pompa yang menganggur, membangun embung, longstorage, dam-parit, dan sumur air tanah dangkal. 'Hasilnya Indek Pertanaman (IP) pada Juli-September 2016 meningkat dari sekali tanam pertahun menjadi dua kali tanam dan luas tanam," katanya, Ahad (2/10).

Solusi dalam mengatasi paceklik tersebut, ia melanjutkan tidak hanya untuk pertanaman padi, namun juga diterapkan pada jagung, cabai, dan bawang merah dengan menanam pada saat off-season. "Cara itu membuat tidak akan terjadinya shortage produksi pada setiap bulanannya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Winarno Tohir menilai, terobosan baru tersebut berdampak pada peningkatan luas tanam. Hasilnya, luas tanam kotor pada Juli 2016 seluas 917 ribu hektare, Agustus 2016 seluas 952 ribu hektare, dan September 2016 ini sebesar 1,2 juta hektare. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tanam periode yang sama selama puluhan tahun terakhir.

"Dengan luas tanam Juli ini akan menghasilkan produksi Oktober 2016 sekitar 2,7 juta ton beras. Produksi ini mencukupi untuk kebutuhan konsumsi penduduk 2,6 juta ton sebulan. Produksi padi bulan berikutnya pun lebih tinggi dan tidak terjadi paceklik," ujarnya.

Winarno menjelaskan pada periode Juli-Oktober selama ini merupakan titik kritis paceklik. Akan tetapi program Kementan mampu menyelesaikan masalah klasik tahunan ini dengan baik. Faktanya, kata dia, luas tanam meningkat di musim paceklik dan tidak ada lagi defisit produksi pangan setiap bulannya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement