Selasa 20 Sep 2016 11:14 WIB

BKPM Gandeng Citibank Tingkatkan Investasi Asing

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Nur Aini
Kepala BKPM Thomas Lembong
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Kepala BKPM Thomas Lembong

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menggandeng Citibank Indonesia untuk meningkatkan investasi asing di Indonesia. Kerja sama ini dalam bentuk promosi bersama dan pemanfaatan produk dan layanan jasa perbankan terkait dengan kegiatan penanaman modal.

Kepala BKPM Thomas Lembong mengatakan, pertumbuhan iklim investasi telah menjadi prioritas pemerintah Presiden Joko Widodo saat ini, terutama investasi asing langsung yang dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan ekonomi dan infrastruktur dalam negeri.

"Oleh karena itu dibutuhkan langkah strategis yang sejalan dengan fungsi pokok kami, antara lain melalui kolaborasi dengan institusi keuangan berskala global yang menjembatani konsultasi dan penyelenggaraan kegiatan penanaman modal antara kami dan investor dari luar negeri," ujar Kepala BKPM usai penandatanganan nota kesepahaman dengan Citibank di Kantor BKPM, Jakarta, Selasa (20/9).

Thomas mengaku optimis bahwa kerja sama ini dapat memberikan manfaat serta memperkuat relasi antara pemerintah, regulator dan investor, sehingga dapat semakin mendorong pertumbuhan arus penanaman modal ke Indonesia.

CEO Citibank Indonesia, Batara Sianturi mengatakan, kerja sama ini sejalan dengan Citibank untuk senantiasa mendukung pertumbuhan perekonomian dan investasi di Indonesia.

"Kerja sama ini mencakup pemanfaatan kekuatan produk dan layanan jasa perbankan berskala global, yang selama ini dikenal sebagai keunggulan utama Citi," kata Batara.

Berdasarkan data BKPM, hingga semester I 2016 realisasi investasi naik 14,8 persen dibandingkan pada periode yang sama tahun lalu. Nilai investasi yang masuk pada periode tersebut mencapai Rp 298,1 triliun. Penanaman Modal Asing (PMA) berkontribusi sebesar Rp 195,5 triliun atau naik 12,3 persen dari periode yang sama tahun 2015. Realisasi PMA itu berdasarkan asal negara lima besarnya yaitu Singapura sebesar 4,9 miliar dolar AS, Jepang sebesar 2,9 miliar dolar AS, Hong Kong sebesar 1,1 miliar dolar AS, Cina sebesar 1 miliar dolar AS, dan Belanda sebesar 0,63 miliar dolar AS.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement