REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan untuk melakukan pemantauan terhadap 1.000 proyek investasi pada 2016. Sampai Juni 2016, tercatat 86 proyek investasi yang dikunjungi oleh BKPM. Total rencana investasi dari 1.000 proyek tersebut sebesar Rp 39,6 triliun dan sudah terealisasi sebesar Rp 12,8 triliun.
Kepala BKPM Franky Sibarani mengatakan, pemantauan proyek investasi ini bertujuan untuk mengakselerasi proyek-proyek investasi berjalan. Potret 86 proyek investasi tersebut menunjukkan bahwa pengawalan intensif terhadap proyek investasi sangat dibutuhkan. Sebab, dapat memberikan dampak terhadap penyerapan tenaga kerja maupun potensi ekspor serta subtitusi impor.
"Semakin banyak proyek investasi terealisasi, maka akan dapat menciptakan lapangan kerja, mendorong ekspor, dan penghematan anggaran melalui produksi barang subtitusi impor," ujar Franky di Jakarta, Selasa (26/7).
Dari 86 proyek yang dipantau, sebanyak 23 proyek merupakan PMDN dengan rencana investasi Rp 16,3 triliun dan realisasi investasi saat ini sebesar Rp 6,3 triliun. Sedangkan, 63 proyek merupakan PMA dengan rencana investasi sebesar Rp 23,2 triliun dan realisasi investasi Rp 6,5 triliun. Investor asing tersebut berasap dari Jepang, Korea Selatan, British Virgin Islands, Cina, dan Seychelles.
Selain itu, dari 86 proyek tersebut terdapat 40 proyek yang sudah selesai konstruksi, dimana sembilan di antaranya telah memiliki Izin Usaha Industri dan 31 proyek lainnya sudah memasuki tahap commissioning. Total nilai investasi yang sudah selesai konstruksi mencapai Rp 10,4 triliun. Dengan demikian, terdapat 46 proyek yang masih tahap konstruksi dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 29,1 triliun.
Franky mengatakan, dari pemantauan terhadap 86 proyek investasi tersebut masih ditemukan kendala mulai dari pasokan listrik, infrastruktur jalan menuju pabrik yang rusak, ketersediaan tenaga kerja, perizinan daerah, dan lahan. Menurutnya, BKPM melakukan sinergi dan koordinasi dengan kementerian teknis lainnya untuk memperbaiki hal tersebut.
"Kendala tetap masih ditemui, misalnya saja di daerah Bayah terkendala pasokan listrik dan kami melibatkan PLN," kata Franky.
Baca juga: Fasilitas Jalur Hijau akan Percepat Investasi di Wilayah Terpencil
Realisasi investasi 86 proyek tersebut berada di 11 provinsi antara lain, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Timur, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan. Sektor industri yang dibangun diantaranya pembangkit listrik, pertambangan, jasa, hotel, dan pertanian. Rencana penyerapan tenaga kerja dari target tersebut sebesar 31.068 orang dan sudah terealisasi mencapai 21.527 orang.
Pemantauan 86 proyek juga mencatat adanya potensi ekspor senilai 1,2 miliar dolar AS, dan potensi penghematan anggaran melalui produksi barang subtitusi impor senilai 1,6 miliar dolar AS.