Kamis 05 May 2016 11:01 WIB

Nilai Kerajinan Bali ke Autralia 9,3 Juta Dolar

Kerajinan khas Bali
Kerajinan khas Bali

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Pakaian jadi bukan rajutan dan perhiasan perak, emas yang dipadukan dengan permata cukup ramai dikapalkan memenuhi permintaan masyarakat konsumen di Australia. Sehingga perolehan devisanya mencapai 9,3 juta dolar AS selama tiga bulan periode Januari-Maret 2016.

"Belasan jenis aneka kerajinan buatan tangan-tangan halus masyarakat Pulau Dewata dikirim ke Australia, selain pakaian dan perhiasan juga perabotan rumah tangga, kerajinan berbahan baku plastik dan ukiran dari batu padas," kata pengusaha sekaligus eksportir Ketut Suastika di Denpasar Kamis (5/5).

Ia menyebutkan, perhiasan berbahan baku perak dan emas dengan rancangan yang mengikuti perkembangan zaman dan dipadukan dengan muatan lokal Pulau Dewata sangat disenangi konsumen Australia. Bahkan selama Maret 2016 perhiasan yang diekspor dari Bali, 20 persen di antaranya dikirim ke negeri Kangguru.

Pakaian jadi buatan masyarakat Bali baik rajutan maupun bukan rajutan yang diperdagangan ke luar negeri bernilai sekitar 17,9 juta dolar. Sebanyak 17 persen di antaranya memasuki pasar Australia selama Maret 2016. Dan yang terbanyak dikapalkan untuk memenuhi permintaan dari konsumen Amerika.

Suastika menjelaskan, resesi ekonomi masih menghantui masyarakat internasional. Namun perdagangan luar negeri aneka barang kerajinan dan nonmigas Bali ke Australia cukup cerah dan mengalami peningkatkan signifikan. Sehingga hubungan baik antara kedua negara bertetangga ini perlu dijaga dengan baik.

"Hubungan baik antarnegara bertetangga ini berpengaruh terhadap dunia pariwisata, begitu pula, peningkatan ekspor nonmigas Bali tersebut sejalan dengan pertumbuhan kedatangan turis asing asal negeri Kangguru itu ke Pulau Dewata, sebab ada di antara pelancong itu juga pebisnis," ujar Suastika.

Ia mengatakan, meningkatnya perdagangan luar negeri sangat berpengaruh terhadap kunjungan turis asing ke Bali terutama dari negeri kangguru itu. Sebab di antara pelancong yang berlibur ada diantaranya berprofesi sebagai pengusaha atau importir.

Sedikitnya lima persen turis asing yang melakukan perjalanan wisata ke Pulau Dewata diperkirakan adalah pebisnis. Mereka  kemungkinan besar melakukan transaksi berupa pesanan aneka barang cindramata dan  aksoesoris.

Dinas Pariwisata Bali melaporkan, turis luar negeri yang berlibur ke daerah ini dengan terbang langsung dari negerinya ke Bali mencapai angka 1.090.294 orang selama Januari-Maret 2016. Dari data kunjungan tersebut ternyata turis Australia sebanyak 241.458 orang ada di urutan kedua setelah turis Cina sebanyak 247.907 orang. Kemudian di peringkat tiga adalah Jepang sebanyak 60.610 orang.

Jadi pelancong selama berada di Bali dapat dipastikan akan membeli cindramata berupa barang kerajinan. "Baik untuk dipakai sendiri maupun untuk rekan-rekannya setelah tiba di negerinya," tutur Suastika.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement