Rabu 27 Apr 2016 12:48 WIB

Jokowi Akui Industri e-Commerce Indonesia Tertinggal

Rep: Satria Kartika Yudha/ Red: Nur Aini
ecommerce
ecommerce

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden Joko Widodo mengingatkan kepada pelaku usaha industri bisnis daring atau e-commerce di Indonesia agar siap bersaing dalam kompetisi global. Jokowi juga berpesan agar masyarakat Indonesia mampu bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam menghadapi era digital.

Hal tersebut disampaikan oleh Presiden saat membuka “Indonesia E-Commerce Summit and Expo” di ICE BSD, Tangerang, Rabu (27/4).  Dalam sambutannya, Jokowi merasakan sendiri ketertinggalan industri e-commerce Indonesia setelah melakukan kunjungan ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

“Era digital ini perubahan sangat cepat sekali. Saya sangat kaget ketika masuk ke Silicon Valley. Begitu masuk saya merasakan kita tertinggal jauh sekali,” kata Jokowi.

Usai melakukan kunjungan ke AS tersebut,  Jokowi mengaku langsung bertekad untuk mengejar ketertinggalan tersebut. Hal ini dilakukan agar Indonesia tidak tertinggal semakin jauh dalam persaingan global.

“Saat itu juga saya memutuskan dalam pikiran saya, pulang ke Indonesia secepatnya kita harus bergerak. Tidak ada waktu lagi. Kalau tidak dilakukan kita akan betul-betul tertinggal,” ucapnya.

Target volume bisnis ekonomi digital Indonesia adalah 130 miliar dolar AS pada tahun 2020. Sedangkan pada 2014, nilai transaksi e-commerce baru sekitar 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp 150 triliun dengan 72 juta penduduk Indonesia yang aktif di internet.

Angka ini meningkat hampir 50 persen dibandingkan 2013 dan diperkirakan akan terus meningkat di masa depan. Terlebih lagi jika 250 juta penduduk Indonesia aktif di internet, nilai transaksi bisa meningkat ratusan persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement