Jumat 04 Mar 2016 12:49 WIB

Demi Tarik Investor, Aher Minta BI Rate Diturunkan

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Dwi Murdaningsih
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan
Foto: Republika/ Edi Yusuf
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Provinsi Jawa Barat masih menjadi tujuan favorit para investor, baik asing maupun domestik untuk menanamkan investasinya pada tahun 2015 lalu. Realisasi investasi langsung pada 2015 di Jawa Barat mencapai Rp 103,1 triliun. Angka ini, melebihi target investasi sebesar Rp 95 Triliun.

Menurut Gubernur Ahmad Heryawan, agar kegiatan ekonomi nasional termasuk di Jawa Barat terus meningkat dan aliran investasi baik dari dalam maupun luar negeri terus mengalir, harus didukung oleh rendahnya suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI Rate).

“Dampak dari suku bunga yang masih tinggi itu adalah investasi menjadi tidak bergairah," katanya.

Kalau tidak bergairah, kata dia, tentu produksi juga menjadi rendah dan yang dikonsumsi masyarakat jadi lebih sedikit. Bisa dibayangkan, kalau kemampuan konsumsi rendah kemudian pada saat yang bersamaan juga investasi rendah dan tidak bergairah, pertumbuhan ekonomi juga menjadi rendah.

Selain berdampak pada pertumbuhan ekonomi, menurut Aher suku bunga tinggi juga akan berpengaruh pada nasionalisme masyarakat terhadap dunia perbankan nasional. “Dan bahaya juga secara nasionalisme ya, karena kalau suku bunga itu tinggi jangan-jangan bank asing laku di Indonesia. Bank sendiri kemudian diabaikan oleh masyarakat kita sendiri,” katanya.

Oleh karena itu, Aher ingin Bank Indonesia serta para pihak terkait lainnya bisa mengkaji penyebab dari BI Rate yang masih tinggi tersebut. Karena, apabila dibandingkan dengan negara Asean lainnya BI Rate memiliki nilai paling tinggi. Untuk investasi Asing (PMA), kata dia, provinsi Jabar secara nasional porsinya cukup besar mencapai Rp 76,8 Triliun.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement