Senin 29 Feb 2016 17:33 WIB

BJB akan Pertahankan Margin Bunga 6,3 Persen

Rep: C37/ Red: Nur Aini
Laporan Keuangan BJB Dir Utama Bank BJB Ahmad Irfan (tengah) didampingi jajaran direksi memberikan laporan keuangan di Jakarta, Senin (29/2).
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Laporan Keuangan BJB Dir Utama Bank BJB Ahmad Irfan (tengah) didampingi jajaran direksi memberikan laporan keuangan di Jakarta, Senin (29/2).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk  (BJBR) di 2016 akan mempertahankan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) di angka 6,3 persen. Hal ini mengacu pada kinerja perseroan di 2015.

"Kami akan coba pertahankan NIM kita tetap di 6,3 persen dengan melakukan berbagai efisiensi. Efisiensi di biaya dana dan SDM kita," kata Direktur Utama BJB, Achmad Irfan, di Hotel Fairmont Jakarta, Senin (29/2).

Efisiensi dengan menekan biaya dana, kata Irfan, dalam hal ini pihaknya akan memperbesar porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). CASA BJB di tahun 2015 tercatat sebesar 52,4 persen. Jumlah tersebut mengalami penurunan di tahun 2014 yang sebesar 64,1 persen.

"Kami menargetkan porsi dana murah di tahun 2016 mencapai 60 persen, dengan menggenjot tabungan," ujarnya.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang melarang penempatan biaya APBN dan APBD dengan special rate akan menolong penekanan biaya dana. Hingga akhir 2015, dana Pemerintah Daerah yang berada di BJB sebesar 27 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang sebesar Rp 67,6 triliun.

"Dana pemda dan BPD 27 persen. Kami sudah mengantisipasi ke teman-teman yang menangani kas daerah (kasda), kalau kasda itu wajib, tapi kita wajib juga mencari dana masyarakat di luar kasda," ujarnya.

Efisiensi lainnya yaitu di bidang sumber daya manusia (SDM) dan akan mengevaluasi pembukaan jaringan kantor di tahun ini. Sedangkan Warung BJB yang merupakan kantor khusus menyasar segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan dievaluasi ulang.

"Dari 443 Warung BJB akan dialihkan ke 12 cabang dengan pembentukan cluster," katanya.

Kendati tidak menargetkan penurunan NIM, Irfan mengaku pihaknya mendukung rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan pemerintah untuk mendorong suku bunga kredit di bawah 10 persen atau single digit. Menurutnya, hal itu telah dicapai oleh BJB sejak 2011. Pihaknya telah menyalurkan kredit mikro dengan bunga 8,3 persen.

"Nama programnya Kredit Cipta Rakyat dengan bunga 8,3 persen dengan per bulan 0,67 persen," katanya.

Baca juga: BJB Raup Laba Bersih Rp 1,38 Triliun Sepanjang 2015

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement