Senin 30 Nov 2015 20:34 WIB

Giliran Perajin Boneka di Bekasi Keluhkan Pencabutan Subsidi Listrik

Rep: c37/ Red: Maman Sudiaman
Perajin boneka pun bakal terkena imbas penyesuasian tarif listrik.
Foto: Republika/ Tahta Aidilla
Perajin boneka pun bakal terkena imbas penyesuasian tarif listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -– Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana mencabut subsidi listrik berdaya 1.300 – 2.200 VA pada 1 Desember esok. Kenaikan tarif listrik tersebut berpengaruh cukup signifikan pada penurunan omzet usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) semisal perajin boneka di Bekasi.

Menurut Ketua Himpunan Perajin Boneka dan Jasa Bordir (HIBAS) Kota Bekasi, Soleman, diperkirakan usaha pengrajin boneka di Kota Bekasi akan mengalami penurunan omzet hingga 20 persen. Sebelumnya akibat ekonomi dan harga BBM yang tidak stabil, pengrajin boneka mengalami penurunan omzet hingga hampir 50 persen.

“Sekarang ada kenaikan tarif listrik, bisa turun lagi omzet kita. Diperkirakan hampir lebih dari 20 persen,” ungkap Soleman, Senin (30/11).

Soleman menjelaskan, untuk usaha boneka, hampir semua proses porduksi memerlukan listrik. Seperti penggunaan mesin jahit, cutting, dan compressor. Apalagi sebanyak 50 perajin boneka di bawah HIBAS sudah menggunakan daya listrik 1.900 VA. “Jadi semua kena pengaruhnya,”imbuhnya.

Untuk menutupi penurunan omzet, tentunya para pengrajin harus menaikkan harga jual. Hal ini, menurut Soleman sulit dilakukan saat ini.

“Pasar lagi kurang bagus, dengan dinaikkan harganya apa pasar akan menerima secara positif, kan belum tentu,” katanya.

Apalagi, pengrajin boneka di Kota Bekasi juga bersaing dengan usaha sejenis di seluruh Jawa Barat. Selain itu, yang membuat pihaknya kesulitan untuk menaikkan harga karena selisih di dalam proses produksi, artinya biaya dalam cost produksinya, terutama di tenaga kerja.

“Tenaga kerja kita kan termasuk paling tinggi. Bicara Bekasi memang persaingan di luar daerah memang kita agak kerepotan,”jelasnya.

Walaupun ada penurunan omzet, lanjut Soleman, para perajin tetap menaikkan gaji pekerjanya setiap tahun walaupun sedikit. Karena pekerjaan mereka cukup sulit, untuk memproduksi boneka yang setiap harinya dipasarkan ke luar daerah. Saat ini, di HIBAS terdapat 50 perajin dengan 1.417 pekerja.

“Jadi memang agak dilematis, pada saat menghadapi saat ini usaha boneka menjerit. Satu sisi kita ingin memperkerjakan pekerja dengan upah yang baik, tetapi satu sisi ekonomi yang tidak bagus,” ujarnya.

 

Video terkait : TDL Naik, Industri Kecil Terancam

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement