Kamis 17 Sep 2015 00:13 WIB

Pelaku Pasar Hadapi Kekhawatiran Berlebih Jelang Pertemuan The Fed

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Hazliansyah
Layar TV di lantai Bursa New York, berisi pengumuman kebijakan Bank sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) pada Rabu (18/12).
Foto: AP/Richard Drew
Layar TV di lantai Bursa New York, berisi pengumuman kebijakan Bank sentral AS atau The Federal Reserve (Fed) pada Rabu (18/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali mengalami pelemahan seiring belum adanya sentimen positif. Bahkan kekhawatiran berlebihan dari pelaku pasar jelang pertemuan BI dan juga The Fed membuat banyak pelaku pasar yang memilih menjauhi pasar.

"Sell-off bahkan cut loss pun dilakukan untuk keluar pasar, padahal menurut kami tidak perlu sampai berlebihan seperti itu," ujar kepala analis riset PT NH Korindo Securities Reza Priyambada, Rabu (16/9).

Terkecuali, jika nantinya pelaku pasar akan kembali masuk setelah adanya kepastian akan keputusan The Fed dan BI. Atau dengan kata lain mengambil posisi pada harga di bawah nantinya. Akan tetapi, jika posisi nantinya tidak diambil maka akan sangat disayangkan aksi cutloss yang sudah dilakukan saat-saat ini.

Pelemahan IHSG dipicu respons negatif pelaku pasar terhadap kembali melemahnya nilai tukar rupiah. Padahal laju bursa saham Asia dan pembukaan pasar saham Eropa berada di zona hijau. Menurut Reza, ada kemungkinan pelaku pasar terutama asing sudah mulai berkurang minat di bursa saham dan obligasi.

 

"Bukan karena bursanya namun karena tidak adanya dukungan dari sisi makro fundamental," ucapnya.

Sementara itu, penguatan bursa saham global yang dibarengi dengan membaiknya laju mata uang Asia tampaknya belum cukup kuat untuk mengajak rupiah untuk duduk bareng di zona hijau.

Terlihat dari pantauan data BI, laju rupiah kian terperosok di zona merah. "Akan menjadi pertanyaan besar di pelaku pasar ketika melihat laju rupiah yang kian melemah sementara mata uang lainnya tidak terlalu melemah," kata Reza.

Padahal sentimennya kurang lebih sama dimana pelaku pasar masih menunggu dan memperhatikan rilis RDG-BI dan FOMC meeting.

Di sisi lain, mulai meningkatnya harga minyak seharusnya membuat penguatan laju dolar AS kian tertahan, namun nyatanya itu tidak membuat rupiah menguat.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement