Jumat 14 Aug 2015 17:29 WIB

Eastspring Optimistis Prospek Pemulihan Ekonomi di Kuartal Mendatang

Rep: risa herdahita/ Red: Irwan Kelana
Presdir Eastpring Investments Indonesia Riki Frindos berikan paparan dalam diskusi bertajuk Global dan Local Market Update 2nd Half 2015 di Jakarta, Kamis (13/8).
Foto: Republika/Tahta Aidilla
Presdir Eastpring Investments Indonesia Riki Frindos berikan paparan dalam diskusi bertajuk Global dan Local Market Update 2nd Half 2015 di Jakarta, Kamis (13/8).

REPUBLIKA.CO.ID,

JAKARTA -- Ketegangan pasar setelah devaluasi mata uang Yuan membuat rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan  (IHSG) melemah. Namun nyatanya hal itu masih ditanggapi optimis oleh perusahaan manajer investasi di Indonesia.

Presiden Direktur Eastspring Investments Indonesia (Eastspring), Riki Frindos mengakui kondisi ekonomi global yang sedang bergejolak ini mempengaruhi perekonomian negara berkembang hingga juga mengalami perlambatan. Perlambatan pertumbuhan akibat perekonomian yang belum terlalu solid melanda negara-negara terutama yang merupakan produsen komoditas.

"Perekonomian dalam negeri juga mengalami perlambatan, karena masih terbatasnya permintaan dagang terutama atas komoditas-komoditas Indonesia," katanya, dalam acara Halal Bihalal bersama board of director (BOD)  Eastspring Investments Indonesia dan Update Global & Local Market - 2nd Half 2015, di Jakarta, Kamis (13/8).

Menurutnya, keadaan likuiditas yang masih ketat turut mempengaruhi aktivitas ekonomi dalam negeri. Itu termasuk tingkat investasi yang terus mengalami perlambatan.

Dalam hal ini, ia menilai, rencana belanja modal pemerintah terutama di sektor infrastruktur diharapkan dapat mengimbangi perlambatan di sektor swasta. Tidak hanya itu, hal ini juga merupakan keniscayaan untuk mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia jangak panjang.

Riki melihat, koreksi yang terjadi di pasar saham belakangan ini lebih merupakan konsekuensi dari perlambatan ekonomi. Refleksinya, terlihat dari menurunnya laba perusahaan dan kondisi ekonomi makro yang belum stabil.  "Termasuk kekhawatiran pada pergerakan rupiah," tegasnya.

Namun, seiring dengan melemahnya harga saham, tingkat valuasi kini semakin masuk ke zona yang menarik. Riki pun optimistis  dengan dorongan pemerintah untuk investasi, khsusnya di sektor infrastruktur dan manufaktur, pemulihan ekonomi akan nampak di kuartal mendatang.

Ia pun yakin sejauh ini sebetulnya pemulihan perekonomian global masih berlanjut.  "Kami telah melayani nasabah Indonesia dan berinvestasi di pasar Indonesia lebih dari satu dasawarsa. Kami telah melewati berbagai siklus perekonomian," tuturnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement