Jumat 26 Jun 2015 11:11 WIB

Dirut Anyar Bursa Patok Target Ambisius

Rep: Aldian Wahyu Ramadhan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Direktur Utama BEI terpilih 2015-2018, Tito Sulistio saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Kamis (25/6).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Direktur Utama BEI terpilih 2015-2018, Tito Sulistio saat Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Hotel Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta, Kamis (25/6).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Direktur Utama anyar Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio menargetkan sejumlah target ambisius. Di antaranya, mengalahkan bursa negara jiran dan nilai transaksi Rp 15 triliun per hari.

Menurut dirut bursa periode 2015-2018 ini, terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki untuk mendorong pasar modal Indonesia bisa bersaing di kancah internasional. Semisal, menambah investor, semakin banyak perusahaan yang go public, menuntun lembaga penjamin atau sekuritas, dan kesehatan BEI dalam memfasilitasi perdagangan efek.

Dia menargetkan bisa mengalahkan nilai transaksi Thailand dan Singapura paling lambat lima tahun. Karena itu, pihak-pihak terkait harus bersinergi dan terkoordinasi dengan baik.

Tito menuturkan, BEI tidak hanya memfasilitasi emiten besar tetapi juga yang kecil. Mantan Presiden Soeharto pernah berkata pada 10 Agustus 1977, ''pasar modal adalah sarana untuk memobilisasi jangka panjang.''

Dia menuturkan, langkah-langkah tersebut untuk menaikkan volume transaksi di pasar modal. ''Market Cap Indonesia dibandingkan Thailand cuma beda 12 persenan, tetapi nilai transaksi dia tiga kali lipat dari kita,'' kata dia usai RUPST BEI 2015 di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (25/6).

Selain itu, Toto mematok target transaksi harian mencapai Rp 15 triliun paling lambat dalam waktu lima tahun. Padahal, transaksi harian sekarang rata-rata baru di level Rp 7 triliun.

Dia menuturkan, demi tercapai target naik menjulangnya nilai transaksi, pemerintah harus mendorong privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Tito mengatakan, pemerintah harus terus mendorong privatisasi walaupun di kala ekonomi melemah. Selain itu, harus ada protokol krisis sebagai langkah melindungi perdagangan saham dalam negeri. ''Bantu amankan dari Singapura,'' kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement