REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Keinginan pemerintah memberikan visa bebas kunjungan untuk turis dari lima negara pada tahun 2015 dipercaya berdampak positif bagi sektor penerbangan dan devisa negara.
“Kalau bebas visa untuk lima negara dijalankan, itu bisa bikin heboh turis masuk ke Indonesia,” ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Arif Wibowo dalam rilisnya, Kamis (29/1).
Pembebasan visa kunjungan tersebut rencananya dirancang bagi pelancong Jepang, Tiongkok, Australia, Korea Selatan, dan Rusia.
Sambutan hangat dilakukan BUMN ini karena Garuda telah melayani hampir seluruh penerbangan langsung menuju empat dari lima negara tersebut, yaitu Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Australia.
Sedangkan penerbangan ke Rusia dilayani Garuda melalui kerjasama code share dengan maskapai lain yang melayani penerbangan menuju negara tersebut.
Bahkan pada 13 Januari 2015 lalu Garuda meresmikan rute penerbangan baru Beijing-Denpasar. Lantaran jumlah turis Tiongkok setiap tahunnya mencapai 100 juta orang.
Saat ini, Indonesia sudah memberlakukan bebas visa untuk 15 negara. Menurut Arif, kampanye yang dilakukan Kementerian Pariwisata melalui country branding membantu Garuda untuk menarik penumpang karena posisinya sebagai flag carrier.
Garuda pun mengantisipasi lonjakan turis jika hal tersebut resmi diberlakukan, Seperti pada turis Tiongkok jika beleid bebas visa diberlakukan dengan menambah sembilan kota di luar Beijing, Shanghai, dan Guangzhou.
“Citilink juga sudah beroperasi carter reguler Wuhan dan Chengdu,” katanya.
Duta Besar RI untuk Tiongkok, Soegeng Rahardjo ikut mendorong Garuda untuk membuka lebih banyak penerbangan langsung dari Tiongkok ke kota-kota destinasi wisata di Tanah Air.
"Targetnya tahun 2016 ada tiga juta wisman asal Tiongkok ke berbagai tujuan wisata Indonesia,” katanya.