Senin 17 Nov 2014 15:05 WIB

Banyak Potensi, UKM Busana Muslim Patut didukung Pendanaan

Rep: Fuji Pratiwi/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Aktris dan Desainer hijab Zaskia Adya Mecca (kanan) bersama Project Manager Indonesia Moslem Fashion Week Fairra Agustint (tengah) dan Desainer Hijab Rini (kiri) berbicara konferensi pers jelang perhelatan Indonesia Moslem Fashion Week 2014 di Jakarta, Kam
Foto: Antara/Teresia May
Aktris dan Desainer hijab Zaskia Adya Mecca (kanan) bersama Project Manager Indonesia Moslem Fashion Week Fairra Agustint (tengah) dan Desainer Hijab Rini (kiri) berbicara konferensi pers jelang perhelatan Indonesia Moslem Fashion Week 2014 di Jakarta, Kam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Indonesia disebut berpotensi merajai ekspor busana Muslim. UKM busana Muslim di Indonesia terbilang kreatif dengan memanfaatkan unsur budaya. Hanya saja, dibutuhkan bantuan pendanaan dan pemasaran agar potensi itu terwujud.

Pakar Ekonomi Islam, Didin Hafidhuddin mengatakan ada tiga isu besar di kalangan kaum Muslim global saat ini, ekonomi syariah, produk halal dan pakaian Muslim. Ini jadi peluang untuk memajukan usaha kecil menengah (UKM) untuk membuat produk-produk yang dibutuhkan dan memasarkannya. Didin yakin pemerintah sudah mencermati ini.

Perkembangan UKM, termasuk UKM pakaian Muslim, akan berkaitan dengan ekonomi syariah yang memang berbasis sektor riil. Pengrajin batik dan para penjual pakaian di pasar-pasar bisa digerakkan untuk mewujudkan potensi itu.

Pemerintah, menurut Didin, setidaknya perlu membantu UKM pakaian Muslim dari segi pendanaan dan pemasaran. ''Pendanaan bisa dibantu dengan modal syariah mudarabah, meski memang harus ada jaminan. Perlu kerja sama dengan lembaga lain. Ekonomi syariah bukan hanya perbankan,'' kata Didin.

Sebagai praktisi sektor riil, Direktur Eksekutif Asosiasi Hotel dan Restoran Syariah Indonesia (AHSIN) Yopi Nursali mengakui betapa kreatifnya UKM pakaian Muslim. ''Mereka selalu bisa menampilkan sesuatu yang berbeda, terlebih jika dikaitkan dengan kekhasan daerah. Sumber inspirasinya luar biasa,'' kata Yopi.

Yopi mengatakan produk pakaian Muslim dengan kreasi dan cita rasa produk yang bagus ini harus dipasarkan dan masuk dalam isu integral pariwisata syariah. Pariwisata akan membuka pasar bagi UKM dan UKM bisa jadi daya tarik wisata tersendiri pula sehingga keduanya bisa saling melengkapi.

Selama ini, pasar dan industri saling mencari lewat mekanisme business to business. ''Akan ada percepatan jika pemerintah membantu ini,'' ungkap dia.

Sebab, yang akan merasakan manfaatnya tidak hanya UKM pakaian Muslim dan pariwisata saja, tapi sektor lain yang berkaitan. Lebih besar, keduanya juga bagian agenda budaya.

Pengemasan bagaimana fesyen Muslim jadi menarik juga penting sebab pengemasan yang baik akan turut membangun citra Muslim dan Indonesia. ''Yang ingin kita kesankan adalah Islam tidak lagi selalu Timur Tengah, tapi Indonesia dan Asia Tenggara yang lebih moderat,'' kata dia.

Akhir pekan lalu, Menteri Koperasi dan UKM, AAGN Puspayoga menyebut Indonesia memiliki 57 juta UKM dan UKM pakaian Muslim potensial untuk merajai ekspor. Terlebih jika sasaran ekspor adalah negara-negara Muslim pula.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement